Senin, 27 Desember 2010
Mencari Kebenaran
Aku ingin memusatkan doaku pada satu titik dimana satu titik itu untuk mendapatkannya Allah harus mengabulkan jalan menuju kesana.
Aku ingin bertemu denganNya diakhirat nanti. Untuk mengabulkan doa itu Allah mesti memberiku ridho, rahmat, cintaNya karena jalan untuk mencapai nya mesti melewati hal-hal yang kusebutkan tadi. Ridho, ilmu, rahmat, dan cintanya pun untuk mencapainya maka Allah mesti memberiku, ilmu, teman-teman yang sholih/sholihah, kesabaran dan rasa syukur yang tak terhingga. Dan seterusnya-dan seterusnya. Mungkin ini yang dimaksud memusatkan doa pada satu titik atau satu tujuan. Satu tujuan tapi 2,3 pulau terlewati….
Bukan berarti malas untuk berdoa…tapi tujuan utama dari doa itu sendiri yang kumaksudkan. Apa yang sedang kupikirkan ini? Ya Allah hanya Engkau yang mengetahui segala sesuatu..
Aku jadi ingat TEMERKUZ (markas). Pada setiap asma ilahi di dalamnya ada semua asma ilahi. Pada asma Allah yang maha Cantik misalnya di dalamnya Ada nama Allah yang Maha Cantik menciptakan, Maha Cantik dalam berkehendak, dan sebagainya….Mungkin dalam doapun di dalamnya terdapat doa-doa yang lain untuk sampai pada tujuan doa inti itu sendiri….(hehehe masih juga membela diri…)
Baiklah-baiklah ku ahiri sampai disini….selingan sebelum tidur….
Sebab Bukanlah Tuhan

“laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimin” (al anbiya:27)
Artinya: Tiada Tuhan Selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk oran-orang yang dzolimin
Ayat ini adalah doa yang dilantunkan oleh Nabi Yunus a.s. Kisah tentang beliau sangatlah masyhur. Dimana beliau ditenggelamkan di kapal lalu diombang ambingkan ombak hingga akhirnya ditelan ikan besar. Beliau Nabi Yunuspun di timpa ketakutan dan terputuslah sebab-sebab pengharapan. Sirnalah angan-angan, sehingga dengan penuh kerendahan diri beliau melantunkan doa tersebut di atas. Dan doa ini menjadi sarana keselamatan dan terbebasnya beliau dari penderitaan.
Rahasia agung dari doa ini adalah bahwa dalam suasana yang mencekam dan menakutkan itu sebab-sebab materi runtuh, sehingga tak bisa merubah apapun dan tak bisa memberi pengaruh apapun. Malam yang gelap, lautan yang ganas serta ikan besar adalah 3 sebab yang menyerang beliau. Dengan demikian tidak ada satu sebabpun yang dapat menyelamatkannya, tak ada yang dapat membantunya kecuali Yang Maha Menguasai Malam, lautan dan ikan besar dan yang mampu menundukkan segala sesuatu dengan perintahNya. Hingga jika dalam suasana yang mencekam seperti itu semua makhluk datang untuk menolongnya maka hal itu takkan memberi manfaat apapun baginya. Disaat itu Nabi Yunus a.s. memandang bahwa tak ada lagi yang bisa menolongnya kecuali Allah SWT, lalu terlantunkanlah doa tersebut, dan segala sesuatunya jadi berubah. Semuanya jadi bersahabat dalam waktu yang sama. Demikianlah makhluk-makhluk yang tadinya mengancam hidup beliau berubah menjadi bersahabat lalu mendekati dengan kasih sayang hingga beliau keluar menuju pantai keselamatan dan menyaksikan kemurahan Allah Yang Maha Penyayang dari bawah pohon yaktin(sejenis pohon labu, lihat surah 37:46).
Mungkin kita berpikir doa ini mungkin tak penting untukku atau tak berpengaruh untukku karena aku tak sedang dilaut, tak sendiri, malampun tak terlalu gelap juga tak berada dalam perut ikan besar. Namun ternyata kita lebih jauh membutuhkan doa ini 100 kali bahkan 1000 kali lebih membutuhkannya dibanding Nabi Yunus a.s. Mengapa? Karena:
Malam yang menanungi kita adalah masa depan, jika kita melihatnya dengan pandangan acuh, tampak gelap dan menakutkan bahkan lebih pekat seratus kali lipat dari malam yang dilalui oleh Nabi Yunus a.s.
Lautan kita adalah bumi yang setiap ombaknya membawa beribu jenazah. Karena itu ia adalah lautan yang lebih menakutkan dari lautan tempat Nabi Yunus a.s. di lemparkan.
Ikan besar kita adalah nafsu ammarah yang kita bawa. Ia adalah ikan yang ingin menelan dan memusnahkan kehidupan akhirat kita.Ikan ini lebih rakus dari ikan yang menelan Nabi Yunus a.s. karena ikan yang menelan Nabi Yunus a.s. mungkin dapat melenyapkan kehidupan yang lamanya seratus tahun saja sementara nafsu ammarah berupaya menghancurkan ratusan juta tahun kehidupan abadi yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan.
Demikianlah hakikat kondisi kita selamanya oleh karena itu tidak ada jalan lain kecuali mengikuti Nabi kita Yunus a.s. berjalan di atas petunjukNya, berpaling dari semua sebab lalu menghadap secara langsung kepada Allah yang merupakan penyebab dari semua sebab. Menghadap kepadaNya dengan sepenuh jiwa dan raga mengharap pertolonganNya dengan doa:
“laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimin” (al anbiya:27)
Artinya: Tiada Tuhan Selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk oran-orang yang dzolimin
(Di ringkas dari Lamaat, cahaya ke 1 Risalah Nur)
Kenapa Begini? Kenapa Begitu?

“Kenapa begini…..?, Kenapa begitu…..?”
Rasanya aku ingin sekali berkasar-kasar ria terhadap mereka yang mengatakan hal itu. Rasanya ingin berkata “siapa kamu yang mau mengatur penciptamu?, siapa kamu yang mengeluhkan keinginan penciptamu? Memang kamu tau apa yang baik dan buruk untukmu? Ketidakberdayaanmu saja tak terbatas bagaimana bisa mengatur…egois!!!!!” Namun aku tau bukan itu yang mereka butuhkan, dan apa untungnya aku marah seperti itu, hanya membuat busuk hatiku. Dan kutau Rabbku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku sama sekali tak punya hak untuk marah atau menghina mereka. Bahkan mungkin aku jauh lebih buruk dari mereka. Karena baik dan buruk hanya Allah yang tahu. Tugasku hanya menyampaikan dan Allah adalah yang memberikan hidayah.
Dengan alasan itu, aku hanya ingin mengajak kalian untuk memahami 3 alasan kenapa kita tak boleh mengeluh.
Ust. Said Nursi dalam kitabnya R.N. cahaya ke 2. Poin ke 2 menjelaskan tentang 3 alasan kenapa manusia tak boleh mengeluh.
Alasan Pertama: ini tertera dalam kalimat ke 26 yang membahas tentang takdir. Misalnya seorang perancang kaya yang cakap mempekerjakan seorang fakir sebagai model selama satu tahun. Untuk memperlihatkan keindahan dan keberhargaan rancangannya, dia pakaikan orang fakir tadi pakaian brokat yang dijahitnya sendiri, serta satu sel baju yang ia tenun dengan sangat indah. Ia selesaiakan berbagai pekerjaan atas rancangannya tersebut. Kemudian ia tampilkan berbagai bentuk dan gaya guna menampilkan kehebatan rancangannya. Karena itu ia memotong, mengganti, memanjangkan, memendekkan disana-sini…
Bagaimana pendapatmu, apakah si fakir ini berhak mengatakan kepada sang perancang yang cakap tersebut “engkau telah membuat saya lelah dan payah dengan permintaanmu agar saya membungkuk di satu waktu dan berdiri di waktu yang lain. Engkau telah merusak keindahan yang terukir pada baju ini yang sebenarnya mempercantik dan memperindah diriku dengan menggunting dan memendekkannya..
Demikian pula Allah SWT menggunakan busana eksistensi yang dia pakaikan kepada manusia sebagai petunjuk atas kreasinya. Karena, Dia menciptakan manusia dalam bentuk model yang dipaparkan pada dirinya pakaian eksistensi, yang diganti, diukur, digunting diubah dan dimodifikasi sebagai manifestasi asmaul husna. Contohnya seperti namaNya Al-Syafi menuntut adanya sakit, begitu juga Al- Raziq menuntut keberadaan sifat lapar.
Állah SWT. yang penguasa segala sesuatunya, berbuat apa yang dikehendakiNya”
Alasan kedua: Sesungguhnya kehidupan menjadi murni oleh musibah dan bala, menjadi bersih oleh penyakit dan bencana. Semua ini melahirkan perpisahan. Semua itu menjadikan hidup mencapai kesempurnaan, kuat, meningkat, produktif, dan mencapai tujuan serta targetnya. Sehingga dengan demikian kehidupan telah melaksanakan kewajiban hidupnya. Sedangkan kehidupan monoton yang hanya berjalan dengan satu corak, dan berlalu di atas ranjang kenikmatan lebih dekat kepada ketiadaan yang merupakan keburukan mutlak ketimbang kepada eksistensi yang merupakan kebajikan mutlak, bahkan sudah mengarah kepada ketiadaan.
Alasan ketiga : dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Dunia adalah tempat beramal dan ibadah, bukan tempat bersenang-senang dan berleha-leha, dan bukan pula tempat menerima imbalan dan pahala. Maka selama dunia merupakan tempat beramal dan beribadah, penyakit dan cobaan, juga adanya perpisahan, selain yang berkaitan dengan agama dan dengan syarat diterima dengan sabar menjadi selaras dengan ama, bahkan amat harmonis dengan ibadah tersebut. Sebab hal-hal di atas menguatkan amal dan mengencangkan ibadah. Dengan demikian, tidak diperbolehkan mengeluhkannya. Justru kita harus bersyukur kepada Allah SWT.
Anehkah jika kukatakn bahwa musibah dan ujian itu datang sebagai tanda datangnya hidayah. Bagi mereka yang menyadarinya akan menjemput hidayah itu dan bagi mereka yang buta takkan melihat apapun dibalik musibah itu kecuali duka lara yang berkepanjangan.
Aku pernah mendengar kisah-kisah orang-orang yang kaya lalu bangkrut, namun setelah kebangkrutannya itu dia menemukan Rabbnya. Merasakan ketidakberdayaannya. Rumahnya yang seperti istana habis dilalap api. Musibah itu yang menyadarkan mereka. Jadi ini seperti cahaya ilahi yang menghampiri kita, hanya saja dengan tekhnik blank(kata titin abla, ngaco…statusnya beberapa hari yang lalu)
Dan aku pribadi juga mengalami hal yang sama. Jika Allah tak memberiku penyakit maka aku tidak akan berhenti mengejar dunia ini. Bahkan aku mungkin jadi anak durhaka naudzubillah. (baca catatan najma said berjudul “semua Sudah Diatur”).
Fitrahku Cinta Keabadian

Dalam seminggu ini aku sudah mendengarkan keluhan tentang kepergian seseorang yang dicintai oleh 4 orang. Dan entahlah, catatan ini tertulis untuk mereka juga untukku yang mungkin pernah atau akan mengalami yang namanya perpisahan. Dan bagi kita yang selalu mengeluh tanpa sadar.
“Kau datangkan banyak orang, lalu kau ceraikan kami”.
Hal ini benar sekali, bahwa Allah Menciptakan sesuai dengan namanya Dia Yang Maha Menciptakan. Lalu Ia binasakan juga sesuai dengan namanya Dialah Allah Yang Maha Membinasakan. Dan Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini agar segala ciptaanNya memperkenalkan dirinya. Bagi orang-orang yang berfikir. Tapi Allah tak membinasakannya begitu saja, namun Dia menjanjikan untuk menghidupkanNya kembali ditempat yang lebih abadi dan lebih baik dan pantas unutknya. Dan inilah mungkin sebab kenapa kita sebaiknya menghafalkan asmaul husna dengan artinya, agar kita tau apa yang ingin ditunjukkan Allah saat memberi sesuatu kepada kita. Intinya mari mengenalnya dan salah satu jalannya adalah lewat asma-asmaNya.
Tengoklah bunga di musim semi, mereka tumbuh indah sekali. Menghiasi taman bunga menyejukkan hati. Tapi tak lama kemudian saat memasuki musim rontok mereka layu. Namun sebelum menyatuh dengan tanah mereka menyisakan benih-benih/menjatuhkan benih-benihnya ketanah. Dan benih-benih itulah yang tumbuh kembali menjadi bunga saat musim semi kembali. Atau bahkan bangkai bunga tadi jauh lebih bermanfaat ketika menjadikan tanah subur.
Ibaratkan bunga tadi adalah kawan kita. Kita sayang padanya, dia menyejukkan hati, membawa kebahagiaan untuk kita. Lalu satu ketika dia harus pergi meninggalkan kita. Sedih sekali rasanya. Namun walau begitu dia meninggalkan benih baik itu pahit atau manis benih itu tetap bisa kita jadikan pelajaran. Dan dia akan selalu abadi, tapi sebagai seorang yang baik bukan sebagai orang yang buruk.
Sebenarnya ini adalah bukti bahwa kita menginginkan keabadian. Kita tak ingin dipisahkan dengan orang yang paling kita cintai. Kita ingin dia abadi, padahal yang abadi hanyalah Allah. Kitapun bisa abadi jika kita mengikuti aturanNya. Kita bisa menikmati pertemuan abadi diakhirat asal kita tetap menghambakan diri kepadaNy, beriman dan memohon ridhoNya. Jadi sesungguhnya fitrah kita ini menginginkan Allah karena hanya Dialah yang abadi.
Dalam Risalah nur tepatnya pada cahaya ke 3 bagian ke 2 membahas tentang Fitrah Manusia Yang menginginkan Keabadian. Disana dijelaskan sebagai berikut:
Dalam fitrah manusia ada keinginan yang sangat kuat terhadap keabadian. Sampai-sampai ia berangan-angan agar semua yang dicintainya bersifat abadi. Bahkan ia hanya mau mencintai sesuatu yang disangkanya abadi. Akan tetapi, ketika ia menyadari bahwa apa yang dicintainya itu hanya bersifat sementara atau ia menyaksikan bahwa apa yang dicintainya itu musnah atau pergi, ia akan mengalami kesedihan yang mendalam. Ya, semua ratapan yang muncul akibat adanya perpisahan adalah merupakan tangisan yang bersumber dari kecintaan terhadap keabadian. Seandainya manusia tidak menghayalkan adanya keabadian, ia tidak akan mencintai sesuatu.
Bahkan bisa dikatakan yang menjadi salah satu sebab adanya alam keabadian dan surga yang kekal adalah karena kecintaan yang sangat kuat terhadap keabadian yang tertanam pada fitrah manusia, serta karena doanya yang umum dan menyeluruh untuk bisa kekal. Maka, Allah yang Maha Kekal mengabulkan keinginan dan doa tersebut. Allah menciptakan bagi manusia yang fana sebuah alam yang kekal dan abadi.
Sebab, mana mungkin sang pencipta yang Maha Pemurah dan maha Pengasih mengabulkan doa perut yang berukuran kecil saja yang dipanjatkan lewat lisanu hal (perbuatan) dengan menciptakan untuknya beragam makanan lezat yang tak terhingga, sedangkan tidak mengabulkan doa manusia dengan ucapan, lisanu hal, dengan terus menerus dan kulli (secara utuh), keinginan kuat yang bersumber dari kebutuhan fitrahnya? Naudzu billah. Karena itu sangat mustahil Allah mengabulkan doa manusia. Sebab sikap mengabaikan doa tidak sesuai dengan kebijaksanaan, keadilan, rahmat dan kekuasaanNya.
Selama manusia sangat mencintai keabadian, pastilah semua kesempurnaan dan perasaannya tergantung kepada keabadian itu. Selama kekekalan tersebut menjadi sifat istimewa Zat yang Maha Kekal yang memiliki Keagungan, maka seluruh namaNya yang mulia juga ikut kekal. Semua cermin yang memantulkan manifestasi nama-nama tersebut diwarnai keabadian dan mengambil hukumnya. Maksudnya setiap nama tersebut juga memperoleh sejenis keabadian. Maka itu, yang paling utama yang harus dilakukan oleh manusia serta tugas utama paling agung yang dimiliki manusia adalah menguatkan ikatan dan hubungan dengan Zat yang Maha Kekal dan Agung serta berpegang dengan nama-namaNya yang mulia. Sebab apa yang dikorbankan dijalan Zat yang Maha Kekal, juga akan menerima sejenis sifat kekal.
Ini yang berhubungan dengan perpisahan…
Mari kita berusaha menjadikan pertemuan itu indah dengan mengambil yang baik dan membuang yang buruk dari orang yang kita temui, tidak berusaha untuk memilikinya karena dia bukan milik kita. Namun dengan mengajaknya menuju ridho Allah pertemuan itu akan kekal, pertemuan itu akan berlanjut di temppat yang kekal.
Minggu, 26 Desember 2010
MEMORI BARLA,9 AGUSTUS 2009

Ini adalah salah satu tulisan dalam diariku di Turki. Barla tertanggal 9 agustus 2009. Yang sedikit kuberi tambahan.
Hari ini adalah hari ke empat aku di Barla. Tempat dimana Ust. Said Nursi diasingkan. Disini aku mengunjungi beberapa tempat penting yang berhubungan erat dengan Ust. Said Nursi dan karyanya Risalah Nur.
Kunjungan pertamaku di rumah pohon Ust. Said Nursi. Pohon itu berdaun lebat dan sangat besar. Sepertinya tak ada orang yang berani memetik daunnya, tak ada yang berani menghentikan tasbih daun-daun di pohon itu. Yah tepat di atas pohon itu ada rumah pohon. Tak bisa disebut rumah, hanya sekedar papan atau kayu yang bisa ditempati duduk. Maaf aku tak bisa menjelaskannya. Kalian lihatlah di fotonya….ok!!!!Tepat di dekat pohon besar itu ada dershane kecil. Dulu ust. Tinggal disana. Dan sekarang dikunjungi ribuan thulabunnnur(murid-murid risalah nur) dari seluruh pencuru dunia. Disana terdapat hampir semua Risalah Nur dalam berbagai bahasa. Namun yang lengkap hanya bahasa Turki, Inggris dan arab.
Konon ceritanya saat papan di pohon itu akan di pasang ust. Said memerintahkan kepada seorang muridnya untuk memasang kayu atau papan di pohon itu agar ust. Bisa berdoa, berdzikir di tempat itu. Ust. Memang sangat suka di tempat tinggi. Abe(kakak laki-laki) yang diberi tugas itu bingung karena pohonnya ga bisa di paku, juga ust. Tak ingin pohon itu di tebang atau dilukai sama sekali. Sampai semalaman dia memikirkan jalan keluarnya sampai subuh ketika dia bangun dahan pohon itu berubah arah. Papannya bisa diletakkan diatas dahan untuk menahan papan itu lalu diikat. (maaf yah penjelasannya agak kacau soalnya waktu itu aku belum lancar bahasa turki, tapi kurang lebih seperti itu).
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Isparta. Kami pergi ke salah satu dershane akhwat terbesar di Isparta. Saat itu hari jum’at saat disana ada umumi ders. Kami mendengar ders, diselingi dengan bacaan qur’an. Pengunjung berdatangan dari penjuru Turki dan aku menjadi tamu yang diperlakukan khusus karena datang dari luar Turki demi untuk belajar ilmu hakikat. Mereka menyiapkan penerjemah untuk menjelaskan ders kepadaku. Juga menjadi ajang perkenalan kami. Lalu mereka mendengarkan aku membacakan ayat Al qur’an. Sekali lagi kalimat “MASYA ALLAH” yang kudengarkan tak henti dari bibir mereka. Mereka penuh dengan kelembutan. Saat akan berpisah setiap mereka memeluk dan mencium pipiku, menjabat tanganku sambil melantunkan shalawat kepada Nabi. Sesaat aku merasa menjadi orang yang dikagumi, tak henti aku melantunkan “allahumma ajirnaa minarriyaai, wassum’ati, wal ujubi wal fakhr”.
Meneruskan perjalanan, kami tiba di rumah ust. Said nursi di Isparta. Di sana peninggalan-peninggalan ust. Masih tertata rapi dan di rawat. Mobil yang beliau gunakan di akhir-akhir masa perjuangannya juga masih ada di sana. Pakain dan semua peninggalan beliau berupa tulisan-tulisan risalah nur yang dicetak oleh abilar masih ada. Ini semua menjadi perjuangan beliau. Meski keluar masuk penjara dan diasingkan keberbagai daerah namun karya beliau Risalah Nur masih bisa bermanfaat untuk banyak orang. Risalah Nur ini yang melanjutkan perjuangan beliau. Menakjubkan…Masya Allah…Barekallah….Subhanallah….
Sekali lagi tak malu bertanya yang membuatku banyak tahu. Aku bahkan tak mengerti apa yang mereka katakan, tapi paling tidak adalah walau kaana qolil.
Sore tadi aku jalan-jalan ke toko-toko yang berderet menjual pernak-pernik. Setiap kali masuk ke toko dan mengambil barang yang ingin kubeli. Mereka selalu saja menolak uangku. Sedikit percakapan singkat kami akan kupaparkan.
“Kac para vermem lazim?”(berapa uang yang harus kuberikan?) tanyaku sambil mengeluarkan dompetku
“yok para verme, bu sana hediye”(tidak, jangan memberi uang, ini hadiyah untukmu) sambil menggerakkan tangannya berusaha menjelaskan padaku
“ust. Said bir ay icinde cok az ekmek yiyor, sen oyle yapabilirmisin?”(ust. Said memakan sangat sedikit memakan roti dalam satu bulan, apakah kamu bisa melakukan hal seperti itu?) kata pedagang itu sambil tersenyum dan memberi kantongan berisi belanjaanku eh maksudnya hadiyahku. Tak bisa menolak akupun mengambilnya.
Hampir semua toko yang kumasuki melakukan hal yang sama kepadaku. Padahal banyak turis yang datang kesana. Sungguh akan sangat rugi sekali kalau mereka memberi hadiyah kepada setiap yabanci(orang asing).
Karena tak enak selalu diberi hadiyah. Aku melewati toko terahir, tak singgah untuk melihat-lihat. Namunpemiliknya memanggilku masuk ke dalam tokonya dan memberiku hadiyah. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa semua orang memberiku hadiyah, sampai sekarang aku tak menemukan alasannya.
Lalu dia berkata “berdoalah untukku dan untuk keluargaku agar dihindarkan dari api neraka, kamu seorang musafir doamu dikabulkan, juga seorang thulabunnur, Semoga Allah mengabulkan doamu”. Kalimat yang dia ucapkan itu aku tulis dalam kertas dan setelah sampai di penginapan seorang abla yang pandai berbahasa arab mentransletnya dalam bahasa arab. Setelah tau artinya aku merasa merinding. Aku pikir aku juga butuh doa untuk dihindarkan dari neraka…Lalu siapa yang akan mendoakanku.
Namun beberapa bulan setelah diari ini di tulis aku menangis sesenggukan saat ders. Tepatnya di Kayseri. Kami membahas tentang surat pertama pertanyaan ke empat(mektubat). Di sana ada kalimat yang berbunyi “ Sesuatu yang diberikan kepadamu karena anggapan akan ketaatan agamamu adalah terlarang bagimu jika kamu bukanlah orang yang taat”.Aku menerima pemberian mereka agar aku mendoakannya, seakan-akan aku ini orang yang sholeh yang doanya makbul…ya Rabb…apa mungkin aku kegeeran aja yah saat itu.
Hal yang paling kunikmati di Turki adalah AKU TAK PERNAH LIHAT LAKI – LAKI.
Memori Awal Di Turki
Alhamdulillah, Syukur tak terbatas karena nikmat sehat dan ribuan nikmat lainnya yang tak bisa kuucapkan namun kurasakan dalam setiap nafasku.
Saat menulis catatan ini, Turki sedang musim panas, namun bagiku udaranya sangat dingin. Apalagi apartemennya terbuat dari beton. Disaat orang- orang berkeringat aku justru kedinginan. Pengaruh perubahan tempat mungkin. Aku bersyukur karena tetap mendapatkan kekuatan yang besar untuk mengarungi samudra kehidupan dengan mereka yang sangat asing bagiku, tambah lagi keterbatasanku dalam berkomunikasi dengan mereka.
Sedikit demi sedikit aku belajar bahasa mereka. Demi menambah kosa kata bahasa Turki aku menterjemah beberapa bagian Risalah Nur, kata demi kata lalu kuhafalkan. Sehingga saat ders(pengajian/ kajian) akupun tak terlalu kosong. Kuselesaikan birinci soz (wejangan pertama) dalam Sozler/ Al kalimat (kumpulan kata) yang insya Allah sebentar lagi terjemahan bahasa Indonesianya akan dicetak. Aku menyelesaikannya sehari semalam. Karena menterjemah satu demi satu sehingga tak jelas apa makna dibalik wejangan itu. Namun aku tak putus asa karena aku menterjemah agar mendapatkan kosa kata yang bisa kuhafalkan dan lalu bisa kugunakan. Perjuangan yang cukup berat namun memuaskan, hehe. Risalah nur aslinya bukanlah bahasa Turki tapi bahasa osmanlica hanya saja tidak ditulis dengan hat arab tapi tulisan latin. Karenanya banyak sekali orang-orang Turki yang tidak bisa memahami Risalah Nur. Demikian pula diriku yang harus membuka 2 kamus untuk mendapatkan arti dari setiap kata. Osmanlica-Turki, lalu Turki- Indonesia.
Saat mereka tidur di pagi hari setelah subuh dan ders yaitu kira-kira saat karahat telah berlalu dan matahari mulai meninggi, aku mulai membuka kitab dan kamus. Menghafalkan kata demi kata. Beberapa kali mereka tak menemukanku di kamar, dan saat bersih-bersih mereka menemukanku di mushollah sedang tertidur pulas bersama kitab dan buku-bukuku yang berantakan. Yang aku kagumkan mereka tak menggangguku sama sekali, Justru saat aku bangun, kulihat diriku dengan selimut tebal dan kitab-kitabku telah rapi di atas bantal. Mereka tak menyimpan kitab dilantai, Masya Allah.
Saat ders semua menjadi hening, semua mendengar pelajaran dengan penuh hikmah. Yang kudengar hanya suara seorang yang membaca kitab dan seorang buyuk abla yang umurnya kurang lebih 65 tahun. Beliau menjelaskan kepada kami maksud dan makna-makna perkataan ust dalam kitab. Dan yang lebih mengagumkan lagi dia menjelaskan sambil merajut. Yah itulah kebiasaan perempuan-perempuan di Turki merajut wol menjadi sesuatu yang menghangatkan seperti switer, kaos kaki, syal, baju bayi dan lain sebagainnya. Untuk menjelaskan satu paragraf biasanya membutuhkan waktu satu jam. Dan kalimat yang beliau ucapkan mengalir seperti air di sungai. Ya Rabb…..hidupnya digunakan untuk membaca dan mengajar.
Pernah sekali saat ders aku memainkan pulpenku sehingga mengeluarkan suara. Karena heningnya ruangan itu dan hanya ada satu orang yang berbicara sehingga sura pulpenku itu terdengar keseluruh ruangan. Dan kontak seluruh mata melihat kearahku. Sungguh malu, memalukan dan yah begitulah…
Satu pesan beliau buyuk abla untukku “Putriku kau harus banyak membaca, jawaban dari semua pertanyaanmu tentang kehidupan ada pada Risalah Nur. Kiblat kecil adalah nurani, di dalamnya ada kebenaran karenanya ikutilah. Dan surga kecilmu ada pada Imanmu. Semakin kuat imanmu semakin indah pula surgamu”. Ini kalimat yang bisa kupahami dari perkataannya.
Hampir setiap hari dershane ini penuh dengan wanita-wanita yang haus akan ilmu iman, ilmu hakikat. Anak-anak, remaja, dewasa, orang tua semua ada disini. Bel apartemen tak berhenti berbunyi apalagi hari jum’at jadwal umumi ders.
Mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Mengajariku dengan penuh kesabaran, berbicara dengan kelembutan, memanggil dengan panggilan kasih, menatap dengan lem’a dan senyuman mereka yang sungguh membuatku merasa diterima ditempat ini.
Setiap bertanya tanpa rasa malu kudengar pujian mereka kepada Allah “MASYA ALLAH”. Pikirku kenapa aku harus malu dan takut, aku kesini untuk belajar dan jika aku tak mengambil bagian dari diskusi maka aku mungkin tak akan membawa pulang apapun ke Indonesia. Datang kosong pulangpun kosong, sungguh sayang sekali.. (hasya).
Hari-hari pertama di dershane aku agak putus asa. Namun ketika kuingat bahwa aku disini karena Allah, Insya Allah tak akan ada kesulitan kecuali aku sendiri yang mempersulit diriku sendiri dengan keluhan dan ketidaksyukuran.
Kumulai ders dengan mengharapkan berkah atas apa yang kudengar dan niat dalam hatiku untuk menuntut ilmu iman, ilmu yang bermanfaat. Sampai pada akhirnya kutemukan cara belajar, saat kuingat masa-masa di pesantren. Belajar kitab gundul dengan menuliskan arti perkata di dalam kitab gundul. Dan aku menggunakan cara itu disini,…..Allahu akbar….
Yang paling membuatku salut dan ingin aku pelajari dari mereka adalah ketika mereka melihat sesuatu yang mengagumkan misalnya datangnya dari diriku, sedikitpun tak ada pujian untukku tapi pujiannya itu kepada Allah. Seperti kalimat “Masya Allah, Barekallah, atau Subhanallah”.
Risalahnur membimbing kita untuk menemukan allah disetiap ciptaanNya. Cerminan Asma Allah seluruhnya ada pada ciptaanNya. Maka orang-orang yang berfikir akan melihat dan menemukan sehingga sifat kasihnya terhadap makhluk itu terpancar benar-benar dari dalam nuraninya. Berbeda dengan orang yang fasik, yang menjadikan sebab sebagai Tuhan, Naudzubillah semoga kita tak termasuk di dalamnya…Amin…
Inginku Banyak
Ya Allah Ya Rabbim…
Kebutuhanku tak habis, tak berujung
Begitu juga dengan keinginanku
Tapi aku tak putus asa sampai disini
Karena jika Engkau tak ingin memberi
Maka Engkau takakan memberikan keinginan untuk meminta
Kasih sayangMupun tak terhingga
Bahkan lebih luas dari kebutuhan dan keinginanku
Belum lagi Engkau Maha Mengetahui
Tanpa kuberitahu Engkau telah tau
Karena hal yang tersembunyipun Engkau tau
Bukan berarti aku tak perlu meminta padaMu
Karena Engkau memiliki kehendak
Jika mau Kau akan beri
Jika tak mau Kau biarkan
“Dengan apa aku membujukMu?” Pikirku
Dengan mengakui keesaanMu
Dengan memujiMu
Dengan mengakui ketidakberdayaanku
Merendahkan diri dihadapanMu
Yah, Dengan kalimat yang dilantunkan oleh Nabi Yunus a.s
“Laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimiin”
Aku mengesakanMu dengan kalimat “Laa ilaaha illaa anta”
Aku memujiMu dengan kalimat” subhanaka”
Dan aku merendahkan diri dengan kalimat “innii kuntu minadzdzoolimiin”
Ya Rabbim
Isi hatiku ini kau tau
Aku ini ingin Ridho dariMu
Aku ingin Rahmat dariMu
Aku ingin Berkah dariMu
Aku ingin tetap istiqomah dengan beriman kepadaMu
Aku ingin istiqomah menjalankan tugas hidmahku
Tugas suci sebagai pelayan Qur’an
Aku ingin orang-orang bisa melihatMu dalam diriku
Bahkan pada seekor kucing yang aku berbagi rezeki dengannya
Dengan makhluk 3 huruf dengan selalu merasakan keberadaan mereka
Meski aku tak melihatnya
Pada hewan-hewan kecil ciptaanMu
Yang Engkau beri umur sehari
Dengan tidak mempersingkat umurnya
Kubiarkan dia menikmati hidupnya
Karena umurnya yang sehari itu
Hanya digunakan untuk bertasbih kepadaMu
Ya Rabb…
Ditanganku ada buah
Dengan membaca basmalah aku menikmatinya
Setiap gigitan membuatku mengingatMu
Buah ini adalah hasil dari tasbih pohonnya
Segala unsur yang membantu pertumbuhan pohonnya
Memulai kerjanya dengan nama Allah
Dengan lisanu hal mereka mengucapnya
Wahai kaawan….
Lihatlah bagaimana setiap unsur bekerja sama dan benar patuh pada perintah Rabbnya. Pohon tak berjalan untuk mendapatkan kebutuhannya demi untuk tumbuh. Tapi unsur-unsur itulah yang datang dengan perintah Rabbnya, mereka tak datang atas keinginannya…
Melihat mereka yang tak berakal memiliki fitrah indah mematuhi perintah Tuhannya. Lalu kenapa kita yang jelas diberi akal tak juga memikirkan perintah Tuhan kita? Ya Rabbii ampunkan kelalaian kami…Berilah hidayah pada kami…Amin…
Jika Allah ada maka segala sesuatu ada. Jika segala sesuatu berhubungan dengan Allah, maka setiap hal berhubungan dengan segala sesuatu. Dan ingatlah bahwa segala sesuatu bekerja dengan perintah Allah…
Sabtu, 25 Desember 2010
Kanaatsiz Nuriye
Nuriye adalah nama ibu dari Ust. Said Nursi. Dan dengan bangga aku menyandang nama itu...hehehe.
Waktu itu ada acara ders kamp (acara kajian bersama) yang dilaksanakan di Istanbul. Saudari2 dari berbagai daerah datang diantaranya Kayseri, Samsung, Ankara, dll. Dan aku menjadi satu-satunya orang asing disana. Semua orang yang tinggal di dershane ada disana. Setiap dershane biasanya mempunyai paling banyak 10 orang yang menetap di dershane. Dan saat itu ada sekitar 60 orang yang menghadiri kamp itu selama 7 hari. Dershanenya memang lumayan besar. Bisa dibilang 4 lantai apartemen itu semua digunakan.
Disana ada seorang buyuk abla (kakak perempuan ) yang paling besar namanya Zubeyda abla. Beliau sangat ditakuti dan dihormati di dershane itu. Dia tak suka orang yang malas dan sangat sayang pada kami semua. Dan aku yang selalu membuat orang lain kagum dengan kecakapanku berbicara dengan bahasa turki, ketekunanku dalam membaca kitab-kitab, dan pemahaman tentang risalahnur yang sebenarnya sangat minim sekali jika dibandingkan dengan mereka, namun dalam waktu yang singkat sudah menunjukkan hasil. Semua itu sedikitpun tidak mempengaruhi pandangan Zubeyda abla kepadaku. Bahwa aku adalah anak ingusan dan sebenarnya tak patut mengikuti kamp itu, karena kamp itu ditujukan untuk orang-orang yang sudah paham dengan Risalahnur.
Namun aku katakan bahwa aku datang keisni untuk belajar, dan kalian harus menerimaku. Demi untuk bisa ikut memahami ders walau hanya sedikit saat ders dibacakan, aku membaca kitab-kitab sebelum kitab itu dikaji. Aku memahami sesuai dengan tingkat pemahamanku sendiri.
Saat ders meskipun beliau Zubeyda Abla seperti menunjukkan tidak sukanya beliau denganku tapi beliau selalu bertanya
"Nuriye kizim anladin mi?" (Putriku Nuriye mengertikah kamu?)
"Anladim insya Allah, ama sizin anladigini kadar degil tabiki" ( aku mengerti tapi tentunya tidak seperti yang kalian pahami)
Jika aku tak paham aku selalu bertanya
"abla...ben anlamadim" (mba...aku tidak mengerti)
"anladigini kadar yeter, Nuriye" (Apa yang kamu pahami saat ini cukup Nuriye)
3 hari berlanjut kalimat di atas selalu kuulangi dan aku selalu mendapatkan jawaban yang sama. Sampai pada ahirnya aku tidak sabar.
"ben anlamadim, bana ders ver lutfen, biraz daha memleketim donecegim. Ama bu kadar yetmez. ben daha fazla bilmek istiyorum" (aku tidak mengerti, berikan pelajaran padaku tolonglah!. Tidak lama lagi aku akan kembali ke negaraku. Ama apa yang aku dapatkan ini tak cukup. aku tau lebih banyak lagi). Kataku sambil meneteskan air mata
"Nuriye kizim, masya Allah sen cok caliskan sin. Ama canim kanaatsizda guzel degil"(Putriku Nuriye, kamu sangat tekun masya Allah, tapi tidak merasa puaspun tak baik)
Aku diam diberi gelar baru oleh beliau. Tapi aku tak juga paham. Kupikir aku harus banyak belajar karena aku akan kembali ke Indonesia untuk menyebar Iman, memberi kabar gembira pada umat islam di Indonesia bahwa dengan Iman kita akan selamat. Namun bagaimana aku dapat membagi ilmu jika aku tak dapat apa-apa disini.
Aku selalu mengeluhkan itu kepada mereka saudari2ku disana. Dan lagi mereka berkata "Kanaatsiz Nuriye, bu anlama vardir Nuriye, dusun sana. Bulursa cok memnun olursun"(Tidak merasa puas Nuriye, arti dari semua ini ada Nuriye, Pikirkanlah)
Memasuki hari ke 5 aku mendapatkan kabar kalau kami akan pulang lebih cepat ke Kayseri. Aku sedih sekali karena aku sepertinya tak mendapatkan apa-apa dari kamp itu. Kajian yang terlalu tinggi tentang tingkat Ma'rifatullah dan Ismu adzan yang merupakan kunci iman membuatku merasa sedih sekali.
Saat ders aku sekali membuat ulah, dengan menangis aku berkata "abla anlamiyorum, banada anlat!!!!"(abla aku tidak paham, jelaskan juga padaku)
Sekali lagi buyuk abla itu berkata "kizim, sen, ve herkes pek anlamiyorlar. ama guzel dinle, ne anlarsin sana o kadar yeter, tamamma"(Putriku kamu dan semua tidak terlalu menerti. tapi dengarkanlah dengan baik, apa yang kamu pahami itu sudah cukup untukmu, ok!!!!!)
Aku masih juga melawan lalu buyuk abla berkata lpada seorang saudari "Fatmanur, sen nuriye ile mutfaka git , oraya ona ders yap veen cami bir ders ver, anladin mi Fatma nur?(Famanur, pergilah ke dapur bersama Nuriye, disana berilah pelajaran padanya, sudah mengerti fatmanur?)
Lalu aku dan Fatmanur yang berumur 16 tahun itu meninggalkan ruang ders menuju dapur.
Dalam perjalanan ke dapur kepadaku ia berkata (Nuriye abla kamu sangat manis, tapi dengan kanaatsiz kamu tidak akan mendapatkan apa-apa)
Setelah sampai di dapur
"yemek istiyormusun abla?"(apa kamu mau makan abla?) sambil memperlihatkan 5 batang panjang roti. Dan dia berharap aku menghabiskannya semua
"Yok yedim"(tidak, aku sudah makan) kataku tersenyum
"o zaman cay icecegiz" (kalau gitu kita minum teh) sambil memanaskan air
Teh pun siap. Di sana kami selalu memberi gula sendiri pada cangkir teh kami. Dia menyiapkan satu mangkuk kup seker(gula berbentuk kotak ukuran kecil). Biasanya aku menggunakan 3 biji kup gula untuk satu cangkir.
"daha fazla koy abla!!!"(tuanglah lebih banyak lagi abla) kata Fatma nur
"yok, cok tatli icemem ve hasta olurum" (tidak, terlalu manis tidak kuminum dan aku bisa sakit)
"iyi, simdi anlarsin..." (baik kini kamu paham...) kata Fatmanur sambil tersenyum
Aku bingung apa maksudnya.
Kata dia "Kamu tidak bisa menghabiskan satu mangkuk gula ini untuk satu cangkir teh karena kamu takkan bisa meminumnya juga akan membuatmu sakit. Begitu juga dengan ilmu. Kamu tak bisa menerima semua pelajaran dalam satu waktu, jika kamu memaksa maka kamu tidak akan kuat untuk menerimanya berujung keputus asaan melandamu dan itu adalah satu penyakit yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu. Buanglah kanaatsiz dalam dirimu (merasa tidak puas). Apa yang kamu pahami saat ini itu cukup untukmu karena ia akan seperti pohon yang terus tumbuh dan ahirnya buahnya bisa dinikmati oleh orang lain. Dengan kanaatsiz kamu mungkin punya banyak pohon tapi semua pohon itu tidak bisa tumbuh dengan sempurna hingga tak menghasilkan apa-apa."
Aku menangis mengakui kebodohanku, kanaatsizku ini menutup rasa syukurku pada Rabb, karena ternyata pemahaman itu dari Allah dan kita hanya bisaberusaha. Seberapa besar yang pemahaman yang Allah berikan untuk kita maka itu cukup untuk kita saat itu. Bagai paragraf yang bisa menjadi karangan panjang yang indah dan dapat dinikmati oleh banyak orang.
Kami kembali keruang ders.
Buyuk abla bertanya padaku "anladin mi Nuriye?" (sudah mengerti nuriye?)
"Anladim abla, Allah razi olsun" (Aku mengerti abla, Semoga Allah meridhoimu)
Saat kami di ruang ders hampir semua orang sudah menjelaskan apa yang dipahaminya dari pelajaran selama 5 hari disana. Tiba waktunya aku yang harus menjelaskannya.
Sebelumnya aku memohon maaf karena bahasa turkiku yang tidak selancar mereka. Aku menjelaskan apa yang kupahami. DAn ternnyata pemahamanku tidak seburuk yang kupikirkan...
Dan akhirnya aku sadar bahwa rasa tak puas bisa menutup rasa syukur kepada Allah atas apa yang telah Ia berikan. Padahal Allah maha Adil. Allah tau jumlah atau kadar pemberiannya cukup atau tidak untuk hambaNya. Alhamdulillah aku mengerti akan hal ini sebelum aku kembali ke Indonesia. Dan kamp itu menjadi kamp terindah untuk ku. Juga aku menemukan seorang yang luar biasa seperti Zubeyda abla..
Ternyata perlakuannya selama ini kepadaku hanya untuk menghilangkan keegoisan dan kesombonganku karena ananiyyah di dalam diri akan menghalangi ilmu untuk mengenal Allah.
Sebelum kami pulang beliau mengajak kami berkeliling Istanbul termasuk tempat-tempat bersejarah disana. Dan beliau memasangkan cicin perak di tanganku. Saat teman2 melihat cincin itu ada yang berkata padaku "semua dershane binaannya, kepala dershanenya selalu diberikan cincin perak, dan semoga kamu salah satu orang yang akan mengabdi untuk ummat menyebar cahaya iman, amin"......
Sekali lagi KANAATSIZ hindarilah.............
Jumat, 24 Desember 2010
Cinta Hiasan Menuju Cinta Ilahi

Catatan ini adalah bagian dari Risalah Nur Karya Bediuzzaman Said Nursi
Surat ke 8, Pertanyaan ke 4 dari Mektubat(Kumpulan Surat)
Cinta pada lawan jenis, yang disebut cinta hiasan oleh orang – orang suci dan ulama islam, kadang-kadang ternyata berubah menjadi cinta pada Sang pencipta, yaitu cinta sejati. Apakan mungkin juga cinta dunia, yang dimiliki kebanyakan orang, berubah menjadi cinta Allah?
Jawab. Dunia ini mempunyai dua muka: muka pertama adalah yang fana dan sekejap, dan muka yang lain adalah cermin tempat terwujudnya asma-asma Allah, dan sebuah ladang yang ditebari benih untuk dipanen dikehidupan yang akan datang . kalau pencintanya mampu menoleh dari wajah yang sekejap itu kearah wajah yang lain, maka cintanya akan dunia dapat berubah menjadi cinta Allah. Ada satu persyaratan lagi untuk perubahan cinta ini yaitu manusia tidak boleh salah sangka, dan mengira dunia fana kecilnya itu sebagai dunia sana yag sangat luas. Seperti orang – orang yang tersesat , manusia bisa lupa siapa dirinya , ia masuk kedalam dunia exsternal dan jatuh cinta dengannya , maka ia akan jatuh dalam lembah pemujaan alam, kecuali ada tangan luar biasa yang menyelamatkannya.
Untuk memahami kebenaran ini, renungkan alnalogi berikut:
Bayangkan kita bertempat didalam sebuah ruang berdinding empat dan masing-masing dinding diberi cermin besar, sebesar dinding itu. Paling tidak akan terlihat lima ruang, satu ruang adalah ruang yang nyata dan sama – sama didiami keempat orang itu, dan satu ruang bayangan masing-masing cermin. Masing-masing dari kita ( keempat orang ) dapat mengubah bentuk, penampilan dan warna ruangannya sendiri dengan memanipulasi cerminnya sendiri, misalnya kita bisa mengubahnya menjadi hijau atau merah dengan mengecat cermin dan kita pun bisa membuatnya berbentuk lain. Dan untuk ruang yang sebenarnya yang sama-sama ditinggali, kita tidak begitu saja dapat mengubahnya . meskipun kedua ruang, ruang pribadi dan umum, hampr tanpak sama, tetapi sifat dan mudah tidaknya diatur sangat berbeda. Anda dapat menghancurkan ruang pribadi hasil cerminan anda dengan jari tangan, tetapi anda tidak bisa meskipun sekedar memindahkan sebuah batu dari ruang sesungguhnya.
Demikian juga dunia adalah tempat yang berhias indah. Hidup masing-masing orang adalah sebuah cermin besar. Dalam tempat ini, masing-masing dari kita mempunyai dunia pribadi, pilar pusat dan gerbang sendiri, dan itulah hidupnya. Dunia pribadi kita bisa juga dibandingkan dengan sebuah halaman buku, disana tertulis perbuatan kita dengan penuh hdup kita. Kita mencintai dunia kita , tetapi kiata harus menyadari bahwa dunia ini dibangun disekitar hidup kita. Oleh karena itu, dunia kita ini. Seperti hidup kita, bersifat sementara, tidak abadi, dan fana. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan adalah memikirkan perwujudan asma-asma Allah, bukan hal-hal yang fana. Selain itu, kita seharusnya mengenali dunia pribadi kita yang telah diangerahkan kepada kita sehingga kita bisa menebarkan benih-benih supaya bisa hidup di surga kita. Dengan demikian kita hendaknya mencintai dunia ini demi buah yang akan kita petik didunia akhirat. Jika kita bisa melakukan, artinya jika kita mampu mengabdikan cinta kita pada buah-buah perbuatan kita dan perwujudan illahi, maka cinta pada dunia akan berubah menjadi cinta pada Allah. Akan tetapi, seperti yang diuraikan dalam ayat, “Dan janganlah kamu seperti orang- orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri , mereka itulah orang- orang yang fasik2 , adalah mungkin bagi manusia untuk tenggelam dalam dunia pribadi karena dengan melupakan diri-sendiri dan kesementaraan dunia pribadinya, mereka menyia-nyiakan diri sendiri dengan menjalani kehidupan duniawi ini seolah-olah kehidupan dunia ini abadi dan akan abadi.
Cinta pada wajah sementara dari lima dunia itu adalah sumber rasa sakit dan penderitaan tiada akhir karena cinta tersebut menguatkan kasih sayang yang menyedihkan dan membuat cinta dengan hati lembut menjadi tidak punya harapan. Seorang pecinta yang sensitif merasa kasihan pada semua makhluk, sehingga perasaannya selalu terluka oleh binasa semua makhluk yang fana dan indah. Karena ia tidak dapat melakukan apapun untuk makhluk-makhluk itu, ia akan sagat menderita dalam ketidakberdayaan, sebaliknya, orang yang telah menemukan Allah akan menemukan obat untuk penyakit yang disebabkan oleh rasa sayang dan hati lembut. Karena ia menganggap bahwa jiwa-jiwa makhluk hidup, yang merasakan kasihan terhadap apa yang binasa, adalah cermin tempat dipantulkannya Nama- nama kekal dari Yang Maha Kekal, maka kelembutan hatinya berubah menjadi penerimaan kenikmatan dan kelapangan hati. Ia melihat bahwa dibalik makhluk-makhluk yang mudah binasa, fana tetapi indah itu, adalah perwujudan abadi keanggunan murni dan keindahan suci, yang diwujudkan melalui keterampilan dan hiasan yang rumit-halus, adalah keajaiban-keajaiban yang disukai dan menerangi jiwanya. Dengan demikian, ia memahami bahwa kematian dan pembinasaan sebenarnya adalah sebuah proses pembaruan untuk menyegarkan kembali dan meningkatan keindahan dan kenikmatan, dan untuk meningkatkan keterampilan seni ilahi yang teramati dalam alam semesta. Sehingga, kesenangannya dan penghargaannya pada segala perwujudan ilahi dan kegairahan akan perwujudan-perwujudan itu meningkat.
Hanya Yang Maha Kekal sajalah yang abadi.
Said Nursi
Kamis, 23 Desember 2010
YA Allah Kabulkan

Ya Rabb...
Dengan Rahasia Al mar'u ma'a Man Ahabba
Jadikan cinta kasih kami untuk Taqarrub kepadaMU
Menggapai RidhoMU
Limpahkan keberkahan untuk kami
Beri kami cahaya diatas cahaya
Melalui HidayahMU
Keimanan yang sempurna,
Kematian dengan husnul hatimah
Hindarkan kami dari Godaan nafsu dan syaithan
Hindarkan kami dari azab kubur
Hindarkan kami dari api neraka
DAn berikanlah untuk kami
Surga firdausmu
Amin...
Sebanyak jumlah ciptaanMu
Cinta Ahirat

Manusia lahir bagai kertas bersih
Karena amanah ...
Dialah yang mengisi kertas itu
Salah dalam mengisi tanggun jawab
Cepat lambat pasti akan dihisab
Manusia berpotensi luar biasaNamun kadang keliru
Disangka potensi itu adalah miliknya
Padahal itulah titipan indah dari Sang Halik
Disangkanya dunia ini segalanya
Padahal dibalik dunia
Ada kehidupan abadi yang menunggu
Sungguh dunia ini ibarat sebuah buku
Manusiyalah yang diberi tugas tuk membacanya
Buku ini !
Memperkenalkan Tuhan yg sebenarnya
Beruntunglah yg membaca
Beruntunglah yang sadar
Beruntunglah yang ingin membacanya
Hidup berarti amanah
Bernafas berarti tanggun jawab
Salah langkah mesti dipertanggun jawabkan
Dan kemenangan kuncinya ada pada iman dan takwa
Wahai yang dewasa
Wahai yang berusaha
Wahai yang pintar
Semuanya akan berlalu
Sudahkah siap menuju Allah
Setiap orang punya persiapan
Setiap orang punya usaha
Setiap orang punya semangat juang
Jangan disibukkan dengan dunia belaka
Gunakan potensi itu untuk mencapai keabadian
Aku yakin
Kita yang membaca ini
Dewasa
Dewasa
Dewasa
Akhirat menanti kita
Akhirat memanggil kita
Akhirat merayu kita
Baik atau buruk
Dunia yang menentukan
Namun hasilnya di akhirat
Carilah ia
Sebelum ia meolakmu
Terima kasih atas segalanya
Semoga Allah berkahi
Pertemanan ini
Dimana kita saling mengingatkan
Ambil yang bermanfaat
Buang yang keliru
Dan isilah hidup dengan iman
Pasti kita akan bahagia
amin
amin
amin
Jika aku pergi mendahului kalian maka doakanlah aku agar Allah meridhoiku dan mengampuni dosa-dosaku. Meski kita hanya saling mengenal lewat tulisan. Tapi bagiku kalian adalah saudariku seiman, tak mengapa tak bersua di dunia tapi nama kalian bagian dari deretan orang-orang yang ingin kutemui di akhirat...Dunia abadi yang akan kita nikmati bersama...Bahkan aku lebih merindukan pertemuan abadi disurga bersama kalian dibanding pertemuan di dunia yang fana ini....
Ya Allah Engkaulah yang baqii dan kami adalah fana..
Aku MencariMu Rabb

Aku datang ..
Mencari sinar harapan..
Menyinari hati..yang sedang galau!
Aku melihat kebelakang ..
Derita..
Aku melihat kedepan ..
Bayangan derita..
Aku melihat sekarang..
Dalam derita..
Ya Tuhanku
PetunjukMu..
Jangan biarkan aku dalam derita..
Ya Tuhanku..
Dengan mengenalMu
Deritaku menjadi lezat..
Dengan iman kepadaMu
Duniaku Syurgaku..
Oh Tuhanku!
Aku selalu mencariMu..
Berikan hambaMu kemampuan..
Dalam membaca surat kasihMu..
karena Aku mencariMu..
Jika aku menemukanMu..
Segala sesuatu pasti aku temukan..
Aku mencariMu ..
dan ..
Aku menemukanMu ..
Di setiap ciptaan aku melihatMu..
Alhamdulillah alaa ni'matil iman .
Berteman KreNa Allah

"Berteman karena Allah itu bagaimana dan seperti apa?" Tanya seorang ibu yang sangat kuhormati dan cintai karena Allah insya Allah...
Ya Rabb bantu kami menjawabnya...Mengandalkan ilmu dari kami tak kan mampu memberikan jawaban yang bisa diterima kami segala yang ada pada diri kami terbatas...kecuali Engkau yang memberikan ilmu itu dan sungguh segala sesuatu yang baik datangnya dari Mu...
Insya Allah jawabannya kami akan petik dari percikan-percikan cahaya Risalah Nur.
Berteman berarti menyatukan 2 hati, dan tentunya penyatuan hati itu hanya bisa dilakukan dnegan keihlasan.
Sungguh untuk berteman tak harus cari orang yang baik untuk dijadikan teman. Apalagi kontesnya karena Allah. Berarti semua hamba Allah bisa jadi teman.
Pohonpun bisa jadi teman, dengan tidak memangkas daunnya tanpa sebab, menghentikan dzikrullahnya. Itupun sudah membuat kita berteman dengan pohon. Itu salah satu contoh...Dan orang yang bisa berteman dengan apapun selalu merasa ada Allah didekatnya karena pada ciptaanNya ada Dia.
Inti dari semuanya ada keihlasan, Sesuatu yang dikerjakan karena Allah secara tidak langsung membahas tentang keihlasan. Apa dan bagaimana itu ihlas. Ust. Bediuzzaman Said Nursi menjelaskannya dengan sangat baik dalam Risalah Nur(Lama'at, cahaya ke 20 dan 21).
Berteman karena Allah sebaiknya dimulai dari memperbaiki diri sendiri. Ingin diperlakukan baik maka mesti memperlakukan orang lain dengan baik. Adapun jika ia berlaku buruk pada kita, maka jangan merusak keihlasan kita dengan membalas hal yang buruk pula padanya tapi doakan dia karena itu yang dia butuhkan. Rangkul dan rayulah ia agar menyadari kesalahannya. Karena saat seperti itulah ia membutuhkan teman yang sesungguhnya. Jika ia masih juga melakukan kesalahan maka bersabarlah, karena tugas hakiki kita adalah menyampaikan dan hasilnya serahkan kepada Allah. Yang memberi hidayah hanyalah Allah.
Berteman Karena Allah...
Jangan pernah meminta pamrih, biarkan Allah yang memberikan balasan atas perbuatan baik kita padanya. Itu akan lebih indah dan menambah keihlasan kita.
Berteman Karena Allah...
Berusahalah untuk bisa menyatukan tujuan, saling memahami, dan tujuan itu adalah ridho Allah semata. Insya Allah jumlah kita yang sedikit 3 orang misalnya, bisa senilai 111 orang karena kerjasama, keihlasan, dan kebersamaan.
Berteman Karena Allah...
Jadikan kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita, dan kesedihannya adalah kesedihan kita. Tapi hati-hati dengan rasa sedih itu. Jangan sampai dia larut dalam kesedihan dan kitapun ikut larut di dalamnya. Sebaiknya kita sebagai pembawa obat penawar atas kesedihannya. Mencari resep dari cahaya qur'an agar dia bisa kembali tersenyum.
Berteman Karena Allah...
Jangan terlena dengan kehidupan ini. Cinta kita sedemikian terpautnya jangan sampai menjadi penyakit ma'nawi. Ingatlah kematian agar kita siap untuk berpisah...Agar perpisahan tidak merusak pertemanan itu. Agar perpisahan itu tidak membuat kita larut dalam kesedihan tapi justru mengingatkan kita kepada tempat kembali dan tempat berkumpul yang hakiki sehingga kita berusaha untuk mendapatkan kehidupan abadi yang bahagia.
Jadlah kita berteman dalam naungan cinta Allah
Mungkin diantara teman-teman ada yang akan bertanya...
'"Selalu saja kita yang berkorban untuknya, lalu apa yang kita dapatkan ?"
Saudariku yang dicintai Allah...
Yang kita dapatkan adalah KENIKMATAN..
Nikmatnya membahagiakan orang lain jauh lebih nikmat dari kebahagiaan kita sendiri.
Seekor ayam jantan memberi makanan kepada seekor ayam betina....Ayam jantan itu meski dia butuh tapi tidak diambilnya sedikitpun. Dia puas dengan melihat ayam betina itu makan dan menikmatinya...
Ya Rabb Maha suci Engkau yang mengajarkan kami berbuat dari segala ciptaanMu
Perhatikanlah sebatang lilin, yang demi menerangi kegelapan kita dia membakar dirinya. Namun meskipun begitu dia tak habis begitu saja, namanya abadi dia dikenal sebagai "pemberi cahaya"...Masya Allah MilikNyalah segala perumpamaan yang indah..
Coba rasakan kenikmatan jika kita mampu menjadi cahaya penerang untuk hati teman kita yang gelap....Ya Rabb semoga kami diantara insan yang bisa membagi cahayaMu kepada mereka yang sedang redup hatinya..
"Segala sesuatu jika dinisbatkan kepada Allah akan menjadi mudah, namun jika dinisbatkan kepada makhluk atau sebab maka akan menjadi sulit" (R.N. Lama'at, cahaya ke 23/mesnewi nuriye)
Semoga kita salah satu diantara mereka yang Berteman Karena Allah
Untukmu Yang Kurindu
Kutengadahkan wajahku kelangitKulihat awan hitam menyelimutinya
Seberkas cahaya bulan yang sedikit menyinari
Indahnya malam ini
Meski langit mendung
Namun patut kusyukuri
Hatiku tak sekusamnya
Malam ini, aku sendiri
Dikeheningan malam
Kurasa sepi yang mendalam
Tergambar satu wajah dalam benakku
Yang kutau namun tak kunjung kutemui
Apakah aku mengenalnya?
Entahlah, tapi hatiku serasa begitu dekat dengannya
Kadang aku melihat
Dirinya memakai topeng
Hingga aku tak mengenalinya
Aku tak tau wajah aslinya
Aku tertipu dengan permainannya
Dimana dirimu kasih?
Tak kudengar kabar darimu
Kau larut dalam kesibukanmu
Tapi aku yakin kau tak pernah lupa memintaku padaNya
Aku tau kau ingin yang sempurna
Aku tau kau ingin bidadari
Aku pun ingin taat padamu
Membuatku tak sabar menanti
Saat dirimu menobatkanku
Sebagai bidadari
Yang menemanimu dunia khirat
Yah aku menantikan itu
Saat aku tak perlu lagi ragu
Tuk memberi seluruh cinta dan kasihku untukmu
Saat aku tak perlu lagi ragu
Tuk memenuhi segala permintaanmu
Saat tak ada lagi hijab yang membentang diantara kita
Saat kita bersatu menjadi satu bagian yang tak terpisahkan
Saat aku boleh mencintai segala apa yang kau cintai
Aku menantikannya dan senantiasa terungkap dalam doaku
Apa kau tau bagaimana kalimat ini terungkap?
Semua karena aku merindukanmu
Kadang aku bingung
Apa yang kulakukan ini salah
Atau ini adalah satu kewajaran
Jangan katakana ini nafsu
Karena yang kuinginkan
Bukan ciuman atau pelukan mesramu
Aku ingin hatimu
Hati yang tulus tuk menyayangiku
Menjagaku dengan segenap ragamu
Tuk buatku jauh lebih berarti
Dan jauh lebih baik
Aku bahkan rela jika harus menjadi pembantumu
Tapi setelah kau nobatkan jadi bidadarimu
Hehehehe………………….
Padamu ada surga dan neraka
Tinggal aku yang memilihnya
Dan tentunya aku memilih surga
Dan jika kau mencintaiku
Jalan kesurga akan kau buka lebar untukku
Dan menutup rapat jalan menuju neraka
#.I’lan
Setiap gadis merindukan sang pangerannya. Kata “MU” dalam tulisan ini pun berarti sang pangeran itu….yah tak ada yang tak merindukannya. Akupun tak tau siapa dia, namun ini kalimat yang terungkap saat aku memikirkannya…lebaaaayyy
Sekedar mewakili rasa dalam hati teman2...
I love you MaMa

Mama...Aku menyayangimu
Yah semoga itupun tergambar pada perlakuan kami padamu
Meski aku jauh..
Meski aku jarang memberi kabar..
Meski aku tak disisimu..
Namun dalam setiap doaku selalu ada mama..
Mama...Aku rindu padamu
Bagiku hari ibu
Adalah setiap hari
Maafkan aku yang pernah tak peduli
Maafkan aku yang pernah tak dengar
Maafkan aku yang pernah tak lihat lelahmu
Namun saat semua itu berlalu
Aku kini menyadari
Bahwa segala apa yang engkau nasehati adalah benar
Dan kini dengan itu aku melangkah
Mama...Aku mencintaimu..
Terima kasih untuk kesediaanmu
Melahirkanku di dunia ini
Terima kasih untuk merawatku
Dengan cinta dan penuh kasih
Terima kasih untuk didikanmu
Yang tak lepas dari qur'an dan sunnah
Terima kasih untuk mengizinkanku
Meninggalkan rumah demi ummat
Terima kasih untuk nasehatmu
Yang tak pernah lepas dari mengingat Allah
Terima kasih untuk segala yang kau beri
Dengan apa aku akan membalasnya....
Ya Rabb...
Aku tak miliki apapun
Kecuali ketidakberdayaan dan kemiskinan
Namun Engkau pemilik dari segala sesuatu
Engkau memiliki kehendak yang tak terbatas
Dengan penuh kerendahan diri..
Aku memohon padaMu..
YA Rabb..
Ampunkan dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku
Dan sayangilah mereka
Seperti mereka menyayangiku
Sewaktu aku masih kecil..
Ya Rabb..
Sediakan untuk kami rumah indah disana...
Di surga terindahmu yang abadi
Dimana kami bisa bertemu denganMu ya Allah..
Dimana kami bisa bertemu Rasulullah SAW
Dimana kami bisa bertemu ust. Hazretleri
Dimana kami bisa berkumpul bersama orang-orang yang shalih..
Ya Rabb...
Aku meminta hidup abadi yang indah
Bersama mereka yang Engkau cintai
Bersama mereka yang mencintaiMu
Bersama mereka yang kucintai
Ya Rabbim...
Annem - babam hizmeti iman ve qur'an
Hic anlamiyorlar
Ama boyle bana izin verirki
Onlarda hizmet yapiyorduler
bize riza ver ya Rabbim
Seni istiyoruz
Seni ariyoruz
YA Rabb...kusur muzu affet..
Bize kendine kul kabulet
Emanetine gabzetmek
Zamanina kadar bize emaniti emin kil..
Amin..Amin..Amin..
Alfu, alfi shalatin
wa alfu alfi salamin alayka ya Rasulullah