
Dalam seminggu ini aku sudah mendengarkan keluhan tentang kepergian seseorang yang dicintai oleh 4 orang. Dan entahlah, catatan ini tertulis untuk mereka juga untukku yang mungkin pernah atau akan mengalami yang namanya perpisahan. Dan bagi kita yang selalu mengeluh tanpa sadar.
“Kau datangkan banyak orang, lalu kau ceraikan kami”.
Hal ini benar sekali, bahwa Allah Menciptakan sesuai dengan namanya Dia Yang Maha Menciptakan. Lalu Ia binasakan juga sesuai dengan namanya Dialah Allah Yang Maha Membinasakan. Dan Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini agar segala ciptaanNya memperkenalkan dirinya. Bagi orang-orang yang berfikir. Tapi Allah tak membinasakannya begitu saja, namun Dia menjanjikan untuk menghidupkanNya kembali ditempat yang lebih abadi dan lebih baik dan pantas unutknya. Dan inilah mungkin sebab kenapa kita sebaiknya menghafalkan asmaul husna dengan artinya, agar kita tau apa yang ingin ditunjukkan Allah saat memberi sesuatu kepada kita. Intinya mari mengenalnya dan salah satu jalannya adalah lewat asma-asmaNya.
Tengoklah bunga di musim semi, mereka tumbuh indah sekali. Menghiasi taman bunga menyejukkan hati. Tapi tak lama kemudian saat memasuki musim rontok mereka layu. Namun sebelum menyatuh dengan tanah mereka menyisakan benih-benih/menjatuhkan benih-benihnya ketanah. Dan benih-benih itulah yang tumbuh kembali menjadi bunga saat musim semi kembali. Atau bahkan bangkai bunga tadi jauh lebih bermanfaat ketika menjadikan tanah subur.
Ibaratkan bunga tadi adalah kawan kita. Kita sayang padanya, dia menyejukkan hati, membawa kebahagiaan untuk kita. Lalu satu ketika dia harus pergi meninggalkan kita. Sedih sekali rasanya. Namun walau begitu dia meninggalkan benih baik itu pahit atau manis benih itu tetap bisa kita jadikan pelajaran. Dan dia akan selalu abadi, tapi sebagai seorang yang baik bukan sebagai orang yang buruk.
Sebenarnya ini adalah bukti bahwa kita menginginkan keabadian. Kita tak ingin dipisahkan dengan orang yang paling kita cintai. Kita ingin dia abadi, padahal yang abadi hanyalah Allah. Kitapun bisa abadi jika kita mengikuti aturanNya. Kita bisa menikmati pertemuan abadi diakhirat asal kita tetap menghambakan diri kepadaNy, beriman dan memohon ridhoNya. Jadi sesungguhnya fitrah kita ini menginginkan Allah karena hanya Dialah yang abadi.
Dalam Risalah nur tepatnya pada cahaya ke 3 bagian ke 2 membahas tentang Fitrah Manusia Yang menginginkan Keabadian. Disana dijelaskan sebagai berikut:
Dalam fitrah manusia ada keinginan yang sangat kuat terhadap keabadian. Sampai-sampai ia berangan-angan agar semua yang dicintainya bersifat abadi. Bahkan ia hanya mau mencintai sesuatu yang disangkanya abadi. Akan tetapi, ketika ia menyadari bahwa apa yang dicintainya itu hanya bersifat sementara atau ia menyaksikan bahwa apa yang dicintainya itu musnah atau pergi, ia akan mengalami kesedihan yang mendalam. Ya, semua ratapan yang muncul akibat adanya perpisahan adalah merupakan tangisan yang bersumber dari kecintaan terhadap keabadian. Seandainya manusia tidak menghayalkan adanya keabadian, ia tidak akan mencintai sesuatu.
Bahkan bisa dikatakan yang menjadi salah satu sebab adanya alam keabadian dan surga yang kekal adalah karena kecintaan yang sangat kuat terhadap keabadian yang tertanam pada fitrah manusia, serta karena doanya yang umum dan menyeluruh untuk bisa kekal. Maka, Allah yang Maha Kekal mengabulkan keinginan dan doa tersebut. Allah menciptakan bagi manusia yang fana sebuah alam yang kekal dan abadi.
Sebab, mana mungkin sang pencipta yang Maha Pemurah dan maha Pengasih mengabulkan doa perut yang berukuran kecil saja yang dipanjatkan lewat lisanu hal (perbuatan) dengan menciptakan untuknya beragam makanan lezat yang tak terhingga, sedangkan tidak mengabulkan doa manusia dengan ucapan, lisanu hal, dengan terus menerus dan kulli (secara utuh), keinginan kuat yang bersumber dari kebutuhan fitrahnya? Naudzu billah. Karena itu sangat mustahil Allah mengabulkan doa manusia. Sebab sikap mengabaikan doa tidak sesuai dengan kebijaksanaan, keadilan, rahmat dan kekuasaanNya.
Selama manusia sangat mencintai keabadian, pastilah semua kesempurnaan dan perasaannya tergantung kepada keabadian itu. Selama kekekalan tersebut menjadi sifat istimewa Zat yang Maha Kekal yang memiliki Keagungan, maka seluruh namaNya yang mulia juga ikut kekal. Semua cermin yang memantulkan manifestasi nama-nama tersebut diwarnai keabadian dan mengambil hukumnya. Maksudnya setiap nama tersebut juga memperoleh sejenis keabadian. Maka itu, yang paling utama yang harus dilakukan oleh manusia serta tugas utama paling agung yang dimiliki manusia adalah menguatkan ikatan dan hubungan dengan Zat yang Maha Kekal dan Agung serta berpegang dengan nama-namaNya yang mulia. Sebab apa yang dikorbankan dijalan Zat yang Maha Kekal, juga akan menerima sejenis sifat kekal.
Ini yang berhubungan dengan perpisahan…
Mari kita berusaha menjadikan pertemuan itu indah dengan mengambil yang baik dan membuang yang buruk dari orang yang kita temui, tidak berusaha untuk memilikinya karena dia bukan milik kita. Namun dengan mengajaknya menuju ridho Allah pertemuan itu akan kekal, pertemuan itu akan berlanjut di temppat yang kekal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar