
“Kenapa begini…..?, Kenapa begitu…..?”
Rasanya aku ingin sekali berkasar-kasar ria terhadap mereka yang mengatakan hal itu. Rasanya ingin berkata “siapa kamu yang mau mengatur penciptamu?, siapa kamu yang mengeluhkan keinginan penciptamu? Memang kamu tau apa yang baik dan buruk untukmu? Ketidakberdayaanmu saja tak terbatas bagaimana bisa mengatur…egois!!!!!” Namun aku tau bukan itu yang mereka butuhkan, dan apa untungnya aku marah seperti itu, hanya membuat busuk hatiku. Dan kutau Rabbku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku sama sekali tak punya hak untuk marah atau menghina mereka. Bahkan mungkin aku jauh lebih buruk dari mereka. Karena baik dan buruk hanya Allah yang tahu. Tugasku hanya menyampaikan dan Allah adalah yang memberikan hidayah.
Dengan alasan itu, aku hanya ingin mengajak kalian untuk memahami 3 alasan kenapa kita tak boleh mengeluh.
Ust. Said Nursi dalam kitabnya R.N. cahaya ke 2. Poin ke 2 menjelaskan tentang 3 alasan kenapa manusia tak boleh mengeluh.
Alasan Pertama: ini tertera dalam kalimat ke 26 yang membahas tentang takdir. Misalnya seorang perancang kaya yang cakap mempekerjakan seorang fakir sebagai model selama satu tahun. Untuk memperlihatkan keindahan dan keberhargaan rancangannya, dia pakaikan orang fakir tadi pakaian brokat yang dijahitnya sendiri, serta satu sel baju yang ia tenun dengan sangat indah. Ia selesaiakan berbagai pekerjaan atas rancangannya tersebut. Kemudian ia tampilkan berbagai bentuk dan gaya guna menampilkan kehebatan rancangannya. Karena itu ia memotong, mengganti, memanjangkan, memendekkan disana-sini…
Bagaimana pendapatmu, apakah si fakir ini berhak mengatakan kepada sang perancang yang cakap tersebut “engkau telah membuat saya lelah dan payah dengan permintaanmu agar saya membungkuk di satu waktu dan berdiri di waktu yang lain. Engkau telah merusak keindahan yang terukir pada baju ini yang sebenarnya mempercantik dan memperindah diriku dengan menggunting dan memendekkannya..
Demikian pula Allah SWT menggunakan busana eksistensi yang dia pakaikan kepada manusia sebagai petunjuk atas kreasinya. Karena, Dia menciptakan manusia dalam bentuk model yang dipaparkan pada dirinya pakaian eksistensi, yang diganti, diukur, digunting diubah dan dimodifikasi sebagai manifestasi asmaul husna. Contohnya seperti namaNya Al-Syafi menuntut adanya sakit, begitu juga Al- Raziq menuntut keberadaan sifat lapar.
Állah SWT. yang penguasa segala sesuatunya, berbuat apa yang dikehendakiNya”
Alasan kedua: Sesungguhnya kehidupan menjadi murni oleh musibah dan bala, menjadi bersih oleh penyakit dan bencana. Semua ini melahirkan perpisahan. Semua itu menjadikan hidup mencapai kesempurnaan, kuat, meningkat, produktif, dan mencapai tujuan serta targetnya. Sehingga dengan demikian kehidupan telah melaksanakan kewajiban hidupnya. Sedangkan kehidupan monoton yang hanya berjalan dengan satu corak, dan berlalu di atas ranjang kenikmatan lebih dekat kepada ketiadaan yang merupakan keburukan mutlak ketimbang kepada eksistensi yang merupakan kebajikan mutlak, bahkan sudah mengarah kepada ketiadaan.
Alasan ketiga : dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Dunia adalah tempat beramal dan ibadah, bukan tempat bersenang-senang dan berleha-leha, dan bukan pula tempat menerima imbalan dan pahala. Maka selama dunia merupakan tempat beramal dan beribadah, penyakit dan cobaan, juga adanya perpisahan, selain yang berkaitan dengan agama dan dengan syarat diterima dengan sabar menjadi selaras dengan ama, bahkan amat harmonis dengan ibadah tersebut. Sebab hal-hal di atas menguatkan amal dan mengencangkan ibadah. Dengan demikian, tidak diperbolehkan mengeluhkannya. Justru kita harus bersyukur kepada Allah SWT.
Anehkah jika kukatakn bahwa musibah dan ujian itu datang sebagai tanda datangnya hidayah. Bagi mereka yang menyadarinya akan menjemput hidayah itu dan bagi mereka yang buta takkan melihat apapun dibalik musibah itu kecuali duka lara yang berkepanjangan.
Aku pernah mendengar kisah-kisah orang-orang yang kaya lalu bangkrut, namun setelah kebangkrutannya itu dia menemukan Rabbnya. Merasakan ketidakberdayaannya. Rumahnya yang seperti istana habis dilalap api. Musibah itu yang menyadarkan mereka. Jadi ini seperti cahaya ilahi yang menghampiri kita, hanya saja dengan tekhnik blank(kata titin abla, ngaco…statusnya beberapa hari yang lalu)
Dan aku pribadi juga mengalami hal yang sama. Jika Allah tak memberiku penyakit maka aku tidak akan berhenti mengejar dunia ini. Bahkan aku mungkin jadi anak durhaka naudzubillah. (baca catatan najma said berjudul “semua Sudah Diatur”).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar