Senin, 27 Desember 2010

Sebab Bukanlah Tuhan


“laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimin” (al anbiya:27)
Artinya: Tiada Tuhan Selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk oran-orang yang dzolimin
Ayat ini adalah doa yang dilantunkan oleh Nabi Yunus a.s. Kisah tentang beliau sangatlah masyhur. Dimana beliau ditenggelamkan di kapal lalu diombang ambingkan ombak hingga akhirnya ditelan ikan besar. Beliau Nabi Yunuspun di timpa ketakutan dan terputuslah sebab-sebab pengharapan. Sirnalah angan-angan, sehingga dengan penuh kerendahan diri beliau melantunkan doa tersebut di atas. Dan doa ini menjadi sarana keselamatan dan terbebasnya beliau dari penderitaan.
Rahasia agung dari doa ini adalah bahwa dalam suasana yang mencekam dan menakutkan itu sebab-sebab materi runtuh, sehingga tak bisa merubah apapun dan tak bisa memberi pengaruh apapun. Malam yang gelap, lautan yang ganas serta ikan besar adalah 3 sebab yang menyerang beliau. Dengan demikian tidak ada satu sebabpun yang dapat menyelamatkannya, tak ada yang dapat membantunya kecuali Yang Maha Menguasai Malam, lautan dan ikan besar dan yang mampu menundukkan segala sesuatu dengan perintahNya. Hingga jika dalam suasana yang mencekam seperti itu semua makhluk datang untuk menolongnya maka hal itu takkan memberi manfaat apapun baginya. Disaat itu Nabi Yunus a.s. memandang bahwa tak ada lagi yang bisa menolongnya kecuali Allah SWT, lalu terlantunkanlah doa tersebut, dan segala sesuatunya jadi berubah. Semuanya jadi bersahabat dalam waktu yang sama. Demikianlah makhluk-makhluk yang tadinya mengancam hidup beliau berubah menjadi bersahabat lalu mendekati dengan kasih sayang hingga beliau keluar menuju pantai keselamatan dan menyaksikan kemurahan Allah Yang Maha Penyayang dari bawah pohon yaktin(sejenis pohon labu, lihat surah 37:46).
Mungkin kita berpikir doa ini mungkin tak penting untukku atau tak berpengaruh untukku karena aku tak sedang dilaut, tak sendiri, malampun tak terlalu gelap juga tak berada dalam perut ikan besar. Namun ternyata kita lebih jauh membutuhkan doa ini 100 kali bahkan 1000 kali lebih membutuhkannya dibanding Nabi Yunus a.s. Mengapa? Karena:
Malam yang menanungi kita adalah masa depan, jika kita melihatnya dengan pandangan acuh, tampak gelap dan menakutkan bahkan lebih pekat seratus kali lipat dari malam yang dilalui oleh Nabi Yunus a.s.
Lautan kita adalah bumi yang setiap ombaknya membawa beribu jenazah. Karena itu ia adalah lautan yang lebih menakutkan dari lautan tempat Nabi Yunus a.s. di lemparkan.
Ikan besar kita adalah nafsu ammarah yang kita bawa. Ia adalah ikan yang ingin menelan dan memusnahkan kehidupan akhirat kita.Ikan ini lebih rakus dari ikan yang menelan Nabi Yunus a.s. karena ikan yang menelan Nabi Yunus a.s. mungkin dapat melenyapkan kehidupan yang lamanya seratus tahun saja sementara nafsu ammarah berupaya menghancurkan ratusan juta tahun kehidupan abadi yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan.
Demikianlah hakikat kondisi kita selamanya oleh karena itu tidak ada jalan lain kecuali mengikuti Nabi kita Yunus a.s. berjalan di atas petunjukNya, berpaling dari semua sebab lalu menghadap secara langsung kepada Allah yang merupakan penyebab dari semua sebab. Menghadap kepadaNya dengan sepenuh jiwa dan raga mengharap pertolonganNya dengan doa:
“laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimin” (al anbiya:27)
Artinya: Tiada Tuhan Selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk oran-orang yang dzolimin
(Di ringkas dari Lamaat, cahaya ke 1 Risalah Nur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar