Minggu, 26 Desember 2010

MEMORI BARLA,9 AGUSTUS 2009


Ini adalah salah satu tulisan dalam diariku di Turki. Barla tertanggal 9 agustus 2009. Yang sedikit kuberi tambahan.
Hari ini adalah hari ke empat aku di Barla. Tempat dimana Ust. Said Nursi diasingkan. Disini aku mengunjungi beberapa tempat penting yang berhubungan erat dengan Ust. Said Nursi dan karyanya Risalah Nur.
Kunjungan pertamaku di rumah pohon Ust. Said Nursi. Pohon itu berdaun lebat dan sangat besar. Sepertinya tak ada orang yang berani memetik daunnya, tak ada yang berani menghentikan tasbih daun-daun di pohon itu. Yah tepat di atas pohon itu ada rumah pohon. Tak bisa disebut rumah, hanya sekedar papan atau kayu yang bisa ditempati duduk. Maaf aku tak bisa menjelaskannya. Kalian lihatlah di fotonya….ok!!!!Tepat di dekat pohon besar itu ada dershane kecil. Dulu ust. Tinggal disana. Dan sekarang dikunjungi ribuan thulabunnnur(murid-murid risalah nur) dari seluruh pencuru dunia. Disana terdapat hampir semua Risalah Nur dalam berbagai bahasa. Namun yang lengkap hanya bahasa Turki, Inggris dan arab.
Konon ceritanya saat papan di pohon itu akan di pasang ust. Said memerintahkan kepada seorang muridnya untuk memasang kayu atau papan di pohon itu agar ust. Bisa berdoa, berdzikir di tempat itu. Ust. Memang sangat suka di tempat tinggi. Abe(kakak laki-laki) yang diberi tugas itu bingung karena pohonnya ga bisa di paku, juga ust. Tak ingin pohon itu di tebang atau dilukai sama sekali. Sampai semalaman dia memikirkan jalan keluarnya sampai subuh ketika dia bangun dahan pohon itu berubah arah. Papannya bisa diletakkan diatas dahan untuk menahan papan itu lalu diikat. (maaf yah penjelasannya agak kacau soalnya waktu itu aku belum lancar bahasa turki, tapi kurang lebih seperti itu).
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Isparta. Kami pergi ke salah satu dershane akhwat terbesar di Isparta. Saat itu hari jum’at saat disana ada umumi ders. Kami mendengar ders, diselingi dengan bacaan qur’an. Pengunjung berdatangan dari penjuru Turki dan aku menjadi tamu yang diperlakukan khusus karena datang dari luar Turki demi untuk belajar ilmu hakikat. Mereka menyiapkan penerjemah untuk menjelaskan ders kepadaku. Juga menjadi ajang perkenalan kami. Lalu mereka mendengarkan aku membacakan ayat Al qur’an. Sekali lagi kalimat “MASYA ALLAH” yang kudengarkan tak henti dari bibir mereka. Mereka penuh dengan kelembutan. Saat akan berpisah setiap mereka memeluk dan mencium pipiku, menjabat tanganku sambil melantunkan shalawat kepada Nabi. Sesaat aku merasa menjadi orang yang dikagumi, tak henti aku melantunkan “allahumma ajirnaa minarriyaai, wassum’ati, wal ujubi wal fakhr”.
Meneruskan perjalanan, kami tiba di rumah ust. Said nursi di Isparta. Di sana peninggalan-peninggalan ust. Masih tertata rapi dan di rawat. Mobil yang beliau gunakan di akhir-akhir masa perjuangannya juga masih ada di sana. Pakain dan semua peninggalan beliau berupa tulisan-tulisan risalah nur yang dicetak oleh abilar masih ada. Ini semua menjadi perjuangan beliau. Meski keluar masuk penjara dan diasingkan keberbagai daerah namun karya beliau Risalah Nur masih bisa bermanfaat untuk banyak orang. Risalah Nur ini yang melanjutkan perjuangan beliau. Menakjubkan…Masya Allah…Barekallah….Subhanallah….
Sekali lagi tak malu bertanya yang membuatku banyak tahu. Aku bahkan tak mengerti apa yang mereka katakan, tapi paling tidak adalah walau kaana qolil.
Sore tadi aku jalan-jalan ke toko-toko yang berderet menjual pernak-pernik. Setiap kali masuk ke toko dan mengambil barang yang ingin kubeli. Mereka selalu saja menolak uangku. Sedikit percakapan singkat kami akan kupaparkan.
“Kac para vermem lazim?”(berapa uang yang harus kuberikan?) tanyaku sambil mengeluarkan dompetku
“yok para verme, bu sana hediye”(tidak, jangan memberi uang, ini hadiyah untukmu) sambil menggerakkan tangannya berusaha menjelaskan padaku
“ust. Said bir ay icinde cok az ekmek yiyor, sen oyle yapabilirmisin?”(ust. Said memakan sangat sedikit memakan roti dalam satu bulan, apakah kamu bisa melakukan hal seperti itu?) kata pedagang itu sambil tersenyum dan memberi kantongan berisi belanjaanku eh maksudnya hadiyahku. Tak bisa menolak akupun mengambilnya.
Hampir semua toko yang kumasuki melakukan hal yang sama kepadaku. Padahal banyak turis yang datang kesana. Sungguh akan sangat rugi sekali kalau mereka memberi hadiyah kepada setiap yabanci(orang asing).
Karena tak enak selalu diberi hadiyah. Aku melewati toko terahir, tak singgah untuk melihat-lihat. Namunpemiliknya memanggilku masuk ke dalam tokonya dan memberiku hadiyah. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa semua orang memberiku hadiyah, sampai sekarang aku tak menemukan alasannya.
Lalu dia berkata “berdoalah untukku dan untuk keluargaku agar dihindarkan dari api neraka, kamu seorang musafir doamu dikabulkan, juga seorang thulabunnur, Semoga Allah mengabulkan doamu”. Kalimat yang dia ucapkan itu aku tulis dalam kertas dan setelah sampai di penginapan seorang abla yang pandai berbahasa arab mentransletnya dalam bahasa arab. Setelah tau artinya aku merasa merinding. Aku pikir aku juga butuh doa untuk dihindarkan dari neraka…Lalu siapa yang akan mendoakanku.
Namun beberapa bulan setelah diari ini di tulis aku menangis sesenggukan saat ders. Tepatnya di Kayseri. Kami membahas tentang surat pertama pertanyaan ke empat(mektubat). Di sana ada kalimat yang berbunyi “ Sesuatu yang diberikan kepadamu karena anggapan akan ketaatan agamamu adalah terlarang bagimu jika kamu bukanlah orang yang taat”.Aku menerima pemberian mereka agar aku mendoakannya, seakan-akan aku ini orang yang sholeh yang doanya makbul…ya Rabb…apa mungkin aku kegeeran aja yah saat itu.
Hal yang paling kunikmati di Turki adalah AKU TAK PERNAH LIHAT LAKI – LAKI.
 

Memori Awal Di Turki

Bismihii Subhaanahuu, kumulai tulisan ini dengan rasa yang bercampur aduk. Senang, sedih, haru, takut dan masih banyak lagi rasa yang tak bisa kutuliskan satu persatu.
Alhamdulillah, Syukur tak terbatas karena nikmat sehat dan ribuan nikmat lainnya yang tak bisa kuucapkan namun kurasakan dalam setiap nafasku.
Saat menulis catatan ini, Turki sedang musim panas, namun bagiku udaranya sangat dingin. Apalagi apartemennya terbuat dari beton. Disaat orang- orang berkeringat aku justru kedinginan. Pengaruh perubahan tempat mungkin. Aku bersyukur karena tetap mendapatkan kekuatan yang besar untuk mengarungi samudra kehidupan dengan mereka yang sangat asing bagiku, tambah lagi keterbatasanku dalam berkomunikasi dengan mereka.
Sedikit demi sedikit aku belajar bahasa mereka. Demi menambah kosa kata bahasa Turki aku menterjemah beberapa bagian Risalah Nur, kata demi kata lalu kuhafalkan. Sehingga saat ders(pengajian/ kajian) akupun tak terlalu kosong. Kuselesaikan birinci soz (wejangan pertama) dalam Sozler/ Al kalimat (kumpulan kata) yang insya Allah sebentar lagi terjemahan bahasa Indonesianya akan dicetak. Aku menyelesaikannya sehari semalam. Karena menterjemah satu demi satu sehingga tak jelas apa makna dibalik wejangan itu. Namun aku tak putus asa karena aku menterjemah agar mendapatkan kosa kata yang bisa kuhafalkan dan lalu bisa kugunakan. Perjuangan yang cukup berat namun memuaskan, hehe. Risalah nur aslinya bukanlah bahasa Turki tapi bahasa osmanlica hanya saja tidak ditulis dengan hat arab tapi tulisan latin. Karenanya banyak sekali orang-orang Turki yang tidak bisa memahami Risalah Nur. Demikian pula diriku yang harus membuka 2 kamus untuk mendapatkan arti dari setiap kata. Osmanlica-Turki, lalu Turki- Indonesia.
Saat mereka tidur di pagi hari setelah subuh dan ders yaitu kira-kira saat karahat telah berlalu dan matahari mulai meninggi, aku mulai membuka kitab dan kamus. Menghafalkan kata demi kata. Beberapa kali mereka tak menemukanku di kamar, dan saat bersih-bersih mereka menemukanku di mushollah sedang tertidur pulas bersama kitab dan buku-bukuku yang berantakan. Yang aku kagumkan mereka tak menggangguku sama sekali, Justru saat aku bangun, kulihat diriku dengan selimut tebal dan kitab-kitabku telah rapi di atas bantal. Mereka tak menyimpan kitab dilantai, Masya Allah.
Saat ders semua menjadi hening, semua mendengar pelajaran dengan penuh hikmah. Yang kudengar hanya suara seorang yang membaca kitab dan seorang buyuk abla yang umurnya kurang lebih 65 tahun. Beliau menjelaskan kepada kami maksud dan makna-makna perkataan ust dalam kitab. Dan yang lebih mengagumkan lagi dia menjelaskan sambil merajut. Yah itulah kebiasaan perempuan-perempuan di Turki merajut wol menjadi sesuatu yang menghangatkan seperti switer, kaos kaki, syal, baju bayi dan lain sebagainnya. Untuk menjelaskan satu paragraf biasanya membutuhkan waktu satu jam. Dan kalimat yang beliau ucapkan mengalir seperti air di sungai. Ya Rabb…..hidupnya digunakan untuk membaca dan mengajar.
Pernah sekali saat ders aku memainkan pulpenku sehingga mengeluarkan suara. Karena heningnya ruangan itu dan hanya ada satu orang yang berbicara sehingga sura pulpenku itu terdengar keseluruh ruangan. Dan kontak seluruh mata melihat kearahku. Sungguh malu, memalukan dan yah begitulah…
Satu pesan beliau buyuk abla untukku “Putriku kau harus banyak membaca, jawaban dari semua pertanyaanmu tentang kehidupan ada pada Risalah Nur. Kiblat kecil adalah nurani, di dalamnya ada kebenaran karenanya ikutilah. Dan surga kecilmu ada pada Imanmu. Semakin kuat imanmu semakin indah pula surgamu”. Ini kalimat yang bisa kupahami dari perkataannya.
Hampir setiap hari dershane ini penuh dengan wanita-wanita yang haus akan ilmu iman, ilmu hakikat. Anak-anak, remaja, dewasa, orang tua semua ada disini. Bel apartemen tak berhenti berbunyi apalagi hari jum’at jadwal umumi ders.
Mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Mengajariku dengan penuh kesabaran, berbicara dengan kelembutan, memanggil dengan panggilan kasih, menatap dengan lem’a dan senyuman mereka yang sungguh membuatku merasa diterima ditempat ini.
Setiap bertanya tanpa rasa malu kudengar pujian mereka kepada Allah “MASYA ALLAH”. Pikirku kenapa aku harus malu dan takut, aku kesini untuk belajar dan jika aku tak mengambil bagian dari diskusi maka aku mungkin tak akan membawa pulang apapun ke Indonesia. Datang kosong pulangpun kosong, sungguh sayang sekali.. (hasya).
Hari-hari pertama di dershane aku agak putus asa. Namun ketika kuingat bahwa aku disini karena Allah, Insya Allah tak akan ada kesulitan kecuali aku sendiri yang mempersulit diriku sendiri dengan keluhan dan ketidaksyukuran.
Kumulai ders dengan mengharapkan berkah atas apa yang kudengar dan niat dalam hatiku untuk menuntut ilmu iman, ilmu yang bermanfaat. Sampai pada akhirnya kutemukan cara belajar, saat kuingat masa-masa di pesantren. Belajar kitab gundul dengan menuliskan arti perkata di dalam kitab gundul. Dan aku menggunakan cara itu disini,…..Allahu akbar….
Yang paling membuatku salut dan ingin aku pelajari dari mereka adalah ketika mereka melihat sesuatu yang mengagumkan misalnya datangnya dari diriku, sedikitpun tak ada pujian untukku tapi pujiannya itu kepada Allah. Seperti kalimat “Masya Allah, Barekallah, atau Subhanallah”.
Risalahnur membimbing kita untuk menemukan allah disetiap ciptaanNya. Cerminan Asma Allah seluruhnya ada pada ciptaanNya. Maka orang-orang yang berfikir akan melihat dan menemukan sehingga sifat kasihnya terhadap makhluk itu terpancar benar-benar dari dalam nuraninya. Berbeda dengan orang yang fasik, yang menjadikan sebab sebagai Tuhan, Naudzubillah semoga kita tak termasuk di dalamnya…Amin… 

Inginku Banyak

Ya Allah Ya Rabbim…

Kebutuhanku tak habis, tak berujung

Begitu juga dengan keinginanku

Tapi aku tak putus asa sampai disini

Karena jika Engkau tak ingin memberi

Maka Engkau takakan memberikan keinginan untuk meminta

Kasih sayangMupun tak terhingga

Bahkan lebih luas dari kebutuhan dan keinginanku

Belum lagi Engkau Maha Mengetahui

Tanpa kuberitahu Engkau telah tau

Karena hal yang tersembunyipun Engkau tau

Bukan berarti aku tak perlu meminta padaMu

Karena Engkau memiliki kehendak

Jika mau Kau akan beri

Jika tak mau Kau biarkan

“Dengan apa aku membujukMu?” Pikirku

Dengan mengakui keesaanMu

Dengan memujiMu

Dengan mengakui ketidakberdayaanku

Merendahkan diri dihadapanMu

Yah, Dengan kalimat yang dilantunkan oleh Nabi Yunus a.s

“Laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimiin”

Aku mengesakanMu dengan kalimat “Laa ilaaha illaa anta”

Aku memujiMu dengan kalimat” subhanaka”

Dan aku merendahkan diri dengan kalimat “innii kuntu minadzdzoolimiin”

Ya Rabbim

Isi hatiku ini kau tau

Aku ini ingin Ridho dariMu

Aku ingin Rahmat dariMu

Aku ingin Berkah dariMu

Aku ingin tetap istiqomah dengan beriman kepadaMu

Aku ingin istiqomah menjalankan tugas hidmahku

Tugas suci sebagai pelayan Qur’an

Aku ingin orang-orang bisa melihatMu dalam diriku

Bahkan pada seekor kucing yang aku berbagi rezeki dengannya

Dengan makhluk 3 huruf dengan selalu merasakan keberadaan mereka

Meski aku tak melihatnya

Pada hewan-hewan kecil ciptaanMu

Yang Engkau beri umur sehari

Dengan tidak mempersingkat umurnya

Kubiarkan dia menikmati hidupnya

Karena umurnya yang sehari itu

Hanya digunakan untuk bertasbih kepadaMu

Ya Rabb…

Ditanganku ada buah

Dengan membaca basmalah aku menikmatinya

Setiap gigitan membuatku mengingatMu

Buah ini adalah hasil dari tasbih pohonnya

Segala unsur yang membantu pertumbuhan pohonnya

Memulai kerjanya dengan nama Allah

Dengan lisanu hal mereka mengucapnya

Wahai kaawan….

Lihatlah bagaimana setiap unsur bekerja sama dan benar patuh pada perintah Rabbnya. Pohon tak berjalan untuk mendapatkan kebutuhannya demi untuk tumbuh. Tapi unsur-unsur itulah yang datang dengan perintah Rabbnya, mereka tak datang atas keinginannya…

Melihat mereka yang tak berakal memiliki fitrah indah mematuhi perintah Tuhannya. Lalu kenapa kita yang jelas diberi akal tak juga memikirkan perintah Tuhan kita? Ya Rabbii ampunkan kelalaian kami…Berilah hidayah pada kami…Amin…

Jika Allah ada maka segala sesuatu ada. Jika segala sesuatu berhubungan dengan Allah, maka setiap hal berhubungan dengan segala sesuatu. Dan ingatlah bahwa segala sesuatu bekerja dengan perintah Allah…