Senin, 27 Desember 2010

Mencari Kebenaran

Allah tak akan suka melihatku menangis berputus asa, Dia lebih suka melihatku menangis berharap padaNya. “Apa yang tak baik yang pernah Allah berikan padaku?” tanyaku pada diriku sendiri sambil memikirkan kebodohan-kebodohanku karena pernah meragukanNya. Meski saat diberi kadang aku tak melihat kebaikan di dalamnya tapi setelah aku melaluinya aku baru menyadari bahwa Dia telah memberiku kebaikan jauh lebih baik dari apa yang kukira baik. Menyulap sesuatu yang kuanggap buruk menjadi hadiyah yang indah. Akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa apapun yang diberikan padaku aku harus lalui dengan sabar dan ihlas serta penuh kesyukuran. Meski sering kali aku mengeluhkannya tanpa sadar, namun aku bersyukur karena Dia cepat untuk menyadarkanku. Dan itu yang aku minta sebaiknya hukum aku di dunia ini dari pada di akhirat nanti. Aku hanya ingin bahagia di akhirat sana. Kata guruku dari pada disiksa abadi di neraka lebih baik seumur hidup duniaku di siksa. Apalagi hidup di ahir zaman, godaannya itulah….ga tahan….,,
Aku ingin memusatkan doaku pada satu titik dimana satu titik itu untuk mendapatkannya Allah harus mengabulkan jalan menuju kesana.
Aku ingin bertemu denganNya diakhirat nanti. Untuk mengabulkan doa itu Allah mesti memberiku ridho, rahmat, cintaNya karena jalan untuk mencapai nya mesti melewati hal-hal yang kusebutkan tadi. Ridho, ilmu, rahmat, dan cintanya pun untuk mencapainya maka Allah mesti memberiku, ilmu, teman-teman yang sholih/sholihah, kesabaran dan rasa syukur yang tak terhingga. Dan seterusnya-dan seterusnya. Mungkin ini yang dimaksud memusatkan doa pada satu titik atau satu tujuan. Satu tujuan tapi 2,3 pulau terlewati….
Bukan berarti malas untuk berdoa…tapi tujuan utama dari doa itu sendiri yang kumaksudkan. Apa yang sedang kupikirkan ini? Ya Allah hanya Engkau yang mengetahui segala sesuatu..
Aku jadi ingat TEMERKUZ (markas). Pada setiap asma ilahi di dalamnya ada semua asma ilahi. Pada asma Allah yang maha Cantik misalnya di dalamnya Ada nama Allah yang Maha Cantik menciptakan, Maha Cantik dalam berkehendak, dan sebagainya….Mungkin dalam doapun di dalamnya terdapat doa-doa yang lain untuk sampai pada tujuan doa inti itu sendiri….(hehehe masih juga membela diri…)
Baiklah-baiklah ku ahiri sampai disini….selingan sebelum tidur….

Sebab Bukanlah Tuhan


“laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimin” (al anbiya:27)
Artinya: Tiada Tuhan Selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk oran-orang yang dzolimin
Ayat ini adalah doa yang dilantunkan oleh Nabi Yunus a.s. Kisah tentang beliau sangatlah masyhur. Dimana beliau ditenggelamkan di kapal lalu diombang ambingkan ombak hingga akhirnya ditelan ikan besar. Beliau Nabi Yunuspun di timpa ketakutan dan terputuslah sebab-sebab pengharapan. Sirnalah angan-angan, sehingga dengan penuh kerendahan diri beliau melantunkan doa tersebut di atas. Dan doa ini menjadi sarana keselamatan dan terbebasnya beliau dari penderitaan.
Rahasia agung dari doa ini adalah bahwa dalam suasana yang mencekam dan menakutkan itu sebab-sebab materi runtuh, sehingga tak bisa merubah apapun dan tak bisa memberi pengaruh apapun. Malam yang gelap, lautan yang ganas serta ikan besar adalah 3 sebab yang menyerang beliau. Dengan demikian tidak ada satu sebabpun yang dapat menyelamatkannya, tak ada yang dapat membantunya kecuali Yang Maha Menguasai Malam, lautan dan ikan besar dan yang mampu menundukkan segala sesuatu dengan perintahNya. Hingga jika dalam suasana yang mencekam seperti itu semua makhluk datang untuk menolongnya maka hal itu takkan memberi manfaat apapun baginya. Disaat itu Nabi Yunus a.s. memandang bahwa tak ada lagi yang bisa menolongnya kecuali Allah SWT, lalu terlantunkanlah doa tersebut, dan segala sesuatunya jadi berubah. Semuanya jadi bersahabat dalam waktu yang sama. Demikianlah makhluk-makhluk yang tadinya mengancam hidup beliau berubah menjadi bersahabat lalu mendekati dengan kasih sayang hingga beliau keluar menuju pantai keselamatan dan menyaksikan kemurahan Allah Yang Maha Penyayang dari bawah pohon yaktin(sejenis pohon labu, lihat surah 37:46).
Mungkin kita berpikir doa ini mungkin tak penting untukku atau tak berpengaruh untukku karena aku tak sedang dilaut, tak sendiri, malampun tak terlalu gelap juga tak berada dalam perut ikan besar. Namun ternyata kita lebih jauh membutuhkan doa ini 100 kali bahkan 1000 kali lebih membutuhkannya dibanding Nabi Yunus a.s. Mengapa? Karena:
Malam yang menanungi kita adalah masa depan, jika kita melihatnya dengan pandangan acuh, tampak gelap dan menakutkan bahkan lebih pekat seratus kali lipat dari malam yang dilalui oleh Nabi Yunus a.s.
Lautan kita adalah bumi yang setiap ombaknya membawa beribu jenazah. Karena itu ia adalah lautan yang lebih menakutkan dari lautan tempat Nabi Yunus a.s. di lemparkan.
Ikan besar kita adalah nafsu ammarah yang kita bawa. Ia adalah ikan yang ingin menelan dan memusnahkan kehidupan akhirat kita.Ikan ini lebih rakus dari ikan yang menelan Nabi Yunus a.s. karena ikan yang menelan Nabi Yunus a.s. mungkin dapat melenyapkan kehidupan yang lamanya seratus tahun saja sementara nafsu ammarah berupaya menghancurkan ratusan juta tahun kehidupan abadi yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan.
Demikianlah hakikat kondisi kita selamanya oleh karena itu tidak ada jalan lain kecuali mengikuti Nabi kita Yunus a.s. berjalan di atas petunjukNya, berpaling dari semua sebab lalu menghadap secara langsung kepada Allah yang merupakan penyebab dari semua sebab. Menghadap kepadaNya dengan sepenuh jiwa dan raga mengharap pertolonganNya dengan doa:
“laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadzdzoolimin” (al anbiya:27)
Artinya: Tiada Tuhan Selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk oran-orang yang dzolimin
(Di ringkas dari Lamaat, cahaya ke 1 Risalah Nur)

Kenapa Begini? Kenapa Begitu?


“Kenapa begini…..?, Kenapa begitu…..?”
Rasanya aku ingin sekali berkasar-kasar ria terhadap mereka yang mengatakan hal itu. Rasanya ingin berkata “siapa kamu yang mau mengatur penciptamu?, siapa kamu yang mengeluhkan keinginan penciptamu? Memang kamu tau apa yang baik dan buruk untukmu? Ketidakberdayaanmu saja tak terbatas bagaimana bisa mengatur…egois!!!!!” Namun aku tau bukan itu yang mereka butuhkan, dan apa untungnya aku marah seperti itu, hanya membuat busuk hatiku. Dan kutau Rabbku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku sama sekali tak punya hak untuk marah atau menghina mereka. Bahkan mungkin aku jauh lebih buruk dari mereka. Karena baik dan buruk hanya Allah yang tahu. Tugasku hanya menyampaikan dan Allah adalah yang memberikan hidayah.
Dengan alasan itu, aku hanya ingin mengajak kalian untuk memahami 3 alasan kenapa kita tak boleh mengeluh.
Ust. Said Nursi dalam kitabnya R.N. cahaya ke 2. Poin ke 2 menjelaskan tentang 3 alasan kenapa manusia tak boleh mengeluh.
Alasan Pertama: ini tertera dalam kalimat ke 26 yang membahas tentang takdir. Misalnya seorang perancang kaya yang cakap mempekerjakan seorang fakir sebagai model selama satu tahun. Untuk memperlihatkan keindahan dan keberhargaan rancangannya, dia pakaikan orang fakir tadi pakaian brokat yang dijahitnya sendiri, serta satu sel baju yang ia tenun dengan sangat indah. Ia selesaiakan berbagai pekerjaan atas rancangannya tersebut. Kemudian ia tampilkan berbagai bentuk dan gaya guna menampilkan kehebatan rancangannya. Karena itu ia memotong, mengganti, memanjangkan, memendekkan disana-sini…
Bagaimana pendapatmu, apakah si fakir ini berhak mengatakan kepada sang perancang yang cakap tersebut “engkau telah membuat saya lelah dan payah dengan permintaanmu agar saya membungkuk di satu waktu dan berdiri di waktu yang lain. Engkau telah merusak keindahan yang terukir pada baju ini yang sebenarnya mempercantik dan memperindah diriku dengan menggunting dan memendekkannya..
Demikian pula Allah SWT menggunakan busana eksistensi yang dia pakaikan kepada manusia sebagai petunjuk atas kreasinya. Karena, Dia menciptakan manusia dalam bentuk model yang dipaparkan pada dirinya pakaian eksistensi, yang diganti, diukur, digunting diubah dan dimodifikasi sebagai manifestasi asmaul husna. Contohnya seperti namaNya Al-Syafi menuntut adanya sakit, begitu juga Al- Raziq menuntut keberadaan sifat lapar.
Állah SWT. yang penguasa segala sesuatunya, berbuat apa yang dikehendakiNya”
Alasan kedua: Sesungguhnya kehidupan menjadi murni oleh musibah dan bala, menjadi bersih oleh penyakit dan bencana. Semua ini melahirkan perpisahan. Semua itu menjadikan hidup mencapai kesempurnaan, kuat, meningkat, produktif, dan mencapai tujuan serta targetnya. Sehingga dengan demikian kehidupan telah melaksanakan kewajiban hidupnya. Sedangkan kehidupan monoton yang hanya berjalan dengan satu corak, dan berlalu di atas ranjang kenikmatan lebih dekat kepada ketiadaan yang merupakan keburukan mutlak ketimbang kepada eksistensi yang merupakan kebajikan mutlak, bahkan sudah mengarah kepada ketiadaan.
Alasan ketiga : dunia ini merupakan medan ujian dan cobaan. Dunia adalah tempat beramal dan ibadah, bukan tempat bersenang-senang dan berleha-leha, dan bukan pula tempat menerima imbalan dan pahala. Maka selama dunia merupakan tempat beramal dan beribadah, penyakit dan cobaan, juga adanya perpisahan, selain yang berkaitan dengan agama dan dengan syarat diterima dengan sabar menjadi selaras dengan ama, bahkan amat harmonis dengan ibadah tersebut. Sebab hal-hal di atas menguatkan amal dan mengencangkan ibadah. Dengan demikian, tidak diperbolehkan mengeluhkannya. Justru kita harus bersyukur kepada Allah SWT.
Anehkah jika kukatakn bahwa musibah dan ujian itu datang sebagai tanda datangnya hidayah. Bagi mereka yang menyadarinya akan menjemput hidayah itu dan bagi mereka yang buta takkan melihat apapun dibalik musibah itu kecuali duka lara yang berkepanjangan.
Aku pernah mendengar kisah-kisah orang-orang yang kaya lalu bangkrut, namun setelah kebangkrutannya itu dia menemukan Rabbnya. Merasakan ketidakberdayaannya. Rumahnya yang seperti istana habis dilalap api. Musibah itu yang menyadarkan mereka. Jadi ini seperti cahaya ilahi yang menghampiri kita, hanya saja dengan tekhnik blank(kata titin abla, ngaco…statusnya beberapa hari yang lalu)
Dan aku pribadi juga mengalami hal yang sama. Jika Allah tak memberiku penyakit maka aku tidak akan berhenti mengejar dunia ini. Bahkan aku mungkin jadi anak durhaka naudzubillah. (baca catatan najma said berjudul “semua Sudah Diatur”).

Fitrahku Cinta Keabadian


Dalam seminggu ini aku sudah mendengarkan keluhan tentang kepergian seseorang yang dicintai oleh 4 orang. Dan entahlah, catatan ini tertulis untuk mereka juga untukku yang mungkin pernah atau akan mengalami yang namanya perpisahan. Dan bagi kita yang selalu mengeluh tanpa sadar.
“Kau datangkan banyak orang, lalu kau ceraikan kami”.
Hal ini benar sekali, bahwa Allah Menciptakan sesuai dengan namanya Dia Yang Maha Menciptakan. Lalu Ia binasakan juga sesuai dengan namanya Dialah Allah Yang Maha Membinasakan. Dan Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini agar segala ciptaanNya memperkenalkan dirinya. Bagi orang-orang yang berfikir. Tapi Allah tak membinasakannya begitu saja, namun Dia menjanjikan untuk menghidupkanNya kembali ditempat yang lebih abadi dan lebih baik dan pantas unutknya. Dan inilah mungkin sebab kenapa kita sebaiknya menghafalkan asmaul husna dengan artinya, agar kita tau apa yang ingin ditunjukkan Allah saat memberi sesuatu kepada kita. Intinya mari mengenalnya dan salah satu jalannya adalah lewat asma-asmaNya.
Tengoklah bunga di musim semi, mereka tumbuh indah sekali. Menghiasi taman bunga menyejukkan hati. Tapi tak lama kemudian saat memasuki musim rontok mereka layu. Namun sebelum menyatuh dengan tanah mereka menyisakan benih-benih/menjatuhkan benih-benihnya ketanah. Dan benih-benih itulah yang tumbuh kembali menjadi bunga saat musim semi kembali. Atau bahkan bangkai bunga tadi jauh lebih bermanfaat ketika menjadikan tanah subur.
Ibaratkan bunga tadi adalah kawan kita. Kita sayang padanya, dia menyejukkan hati, membawa kebahagiaan untuk kita. Lalu satu ketika dia harus pergi meninggalkan kita. Sedih sekali rasanya. Namun walau begitu dia meninggalkan benih baik itu pahit atau manis benih itu tetap bisa kita jadikan pelajaran. Dan dia akan selalu abadi, tapi sebagai seorang yang baik bukan sebagai orang yang buruk.
Sebenarnya ini adalah bukti bahwa kita menginginkan keabadian. Kita tak ingin dipisahkan dengan orang yang paling kita cintai. Kita ingin dia abadi, padahal yang abadi hanyalah Allah. Kitapun bisa abadi jika kita mengikuti aturanNya. Kita bisa menikmati pertemuan abadi diakhirat asal kita tetap menghambakan diri kepadaNy, beriman dan memohon ridhoNya. Jadi sesungguhnya fitrah kita ini menginginkan Allah karena hanya Dialah yang abadi.
Dalam Risalah nur tepatnya pada cahaya ke 3 bagian ke 2 membahas tentang Fitrah Manusia Yang menginginkan Keabadian. Disana dijelaskan sebagai berikut:
Dalam fitrah manusia ada keinginan yang sangat kuat terhadap keabadian. Sampai-sampai ia berangan-angan agar semua yang dicintainya bersifat abadi. Bahkan ia hanya mau mencintai sesuatu yang disangkanya abadi. Akan tetapi, ketika ia menyadari bahwa apa yang dicintainya itu hanya bersifat sementara atau ia menyaksikan bahwa apa yang dicintainya itu musnah atau pergi, ia akan mengalami kesedihan yang mendalam. Ya, semua ratapan yang muncul akibat adanya perpisahan adalah merupakan tangisan yang bersumber dari kecintaan terhadap keabadian. Seandainya manusia tidak menghayalkan adanya keabadian, ia tidak akan mencintai sesuatu.
Bahkan bisa dikatakan yang menjadi salah satu sebab adanya alam keabadian dan surga yang kekal adalah karena kecintaan yang sangat kuat terhadap keabadian yang tertanam pada fitrah manusia, serta karena doanya yang umum dan menyeluruh untuk bisa kekal. Maka, Allah yang Maha Kekal mengabulkan keinginan dan doa tersebut. Allah menciptakan bagi manusia yang fana sebuah alam yang kekal dan abadi.
Sebab, mana mungkin sang pencipta yang Maha Pemurah dan maha Pengasih mengabulkan doa perut yang berukuran kecil saja yang dipanjatkan lewat lisanu hal (perbuatan) dengan menciptakan untuknya beragam makanan lezat yang tak terhingga, sedangkan tidak mengabulkan doa manusia dengan ucapan, lisanu hal, dengan terus menerus dan kulli (secara utuh), keinginan kuat yang bersumber dari kebutuhan fitrahnya? Naudzu billah. Karena itu sangat mustahil Allah mengabulkan doa manusia. Sebab sikap mengabaikan doa tidak sesuai dengan kebijaksanaan, keadilan, rahmat dan kekuasaanNya.
Selama manusia sangat mencintai keabadian, pastilah semua kesempurnaan dan perasaannya tergantung kepada keabadian itu. Selama kekekalan tersebut menjadi sifat istimewa Zat yang Maha Kekal yang memiliki Keagungan, maka seluruh namaNya yang mulia juga ikut kekal. Semua cermin yang memantulkan manifestasi nama-nama tersebut diwarnai keabadian dan mengambil hukumnya. Maksudnya setiap nama tersebut juga memperoleh sejenis keabadian. Maka itu, yang paling utama yang harus dilakukan oleh manusia serta tugas utama paling agung yang dimiliki manusia adalah menguatkan ikatan dan hubungan dengan Zat yang Maha Kekal dan Agung serta berpegang dengan nama-namaNya yang mulia. Sebab apa yang dikorbankan dijalan Zat yang Maha Kekal, juga akan menerima sejenis sifat kekal.
Ini yang berhubungan dengan perpisahan…
Mari kita berusaha menjadikan pertemuan itu indah dengan mengambil yang baik dan membuang yang buruk dari orang yang kita temui, tidak berusaha untuk memilikinya karena dia bukan milik kita. Namun dengan mengajaknya menuju ridho Allah pertemuan itu akan kekal, pertemuan itu akan berlanjut di temppat yang kekal.