Bismihii Subhaanahuu, kumulai tulisan ini dengan rasa yang bercampur aduk. Senang, sedih, haru, takut dan masih banyak lagi rasa yang tak bisa kutuliskan satu persatu.
Alhamdulillah, Syukur tak terbatas karena nikmat sehat dan ribuan nikmat lainnya yang tak bisa kuucapkan namun kurasakan dalam setiap nafasku.
Saat menulis catatan ini, Turki sedang musim panas, namun bagiku udaranya sangat dingin. Apalagi apartemennya terbuat dari beton. Disaat orang- orang berkeringat aku justru kedinginan. Pengaruh perubahan tempat mungkin. Aku bersyukur karena tetap mendapatkan kekuatan yang besar untuk mengarungi samudra kehidupan dengan mereka yang sangat asing bagiku, tambah lagi keterbatasanku dalam berkomunikasi dengan mereka.
Sedikit demi sedikit aku belajar bahasa mereka. Demi menambah kosa kata bahasa Turki aku menterjemah beberapa bagian Risalah Nur, kata demi kata lalu kuhafalkan. Sehingga saat ders(pengajian/ kajian) akupun tak terlalu kosong. Kuselesaikan birinci soz (wejangan pertama) dalam Sozler/ Al kalimat (kumpulan kata) yang insya Allah sebentar lagi terjemahan bahasa Indonesianya akan dicetak. Aku menyelesaikannya sehari semalam. Karena menterjemah satu demi satu sehingga tak jelas apa makna dibalik wejangan itu. Namun aku tak putus asa karena aku menterjemah agar mendapatkan kosa kata yang bisa kuhafalkan dan lalu bisa kugunakan. Perjuangan yang cukup berat namun memuaskan, hehe. Risalah nur aslinya bukanlah bahasa Turki tapi bahasa osmanlica hanya saja tidak ditulis dengan hat arab tapi tulisan latin. Karenanya banyak sekali orang-orang Turki yang tidak bisa memahami Risalah Nur. Demikian pula diriku yang harus membuka 2 kamus untuk mendapatkan arti dari setiap kata. Osmanlica-Turki, lalu Turki- Indonesia.
Saat mereka tidur di pagi hari setelah subuh dan ders yaitu kira-kira saat karahat telah berlalu dan matahari mulai meninggi, aku mulai membuka kitab dan kamus. Menghafalkan kata demi kata. Beberapa kali mereka tak menemukanku di kamar, dan saat bersih-bersih mereka menemukanku di mushollah sedang tertidur pulas bersama kitab dan buku-bukuku yang berantakan. Yang aku kagumkan mereka tak menggangguku sama sekali, Justru saat aku bangun, kulihat diriku dengan selimut tebal dan kitab-kitabku telah rapi di atas bantal. Mereka tak menyimpan kitab dilantai, Masya Allah.
Saat ders semua menjadi hening, semua mendengar pelajaran dengan penuh hikmah. Yang kudengar hanya suara seorang yang membaca kitab dan seorang buyuk abla yang umurnya kurang lebih 65 tahun. Beliau menjelaskan kepada kami maksud dan makna-makna perkataan ust dalam kitab. Dan yang lebih mengagumkan lagi dia menjelaskan sambil merajut. Yah itulah kebiasaan perempuan-perempuan di Turki merajut wol menjadi sesuatu yang menghangatkan seperti switer, kaos kaki, syal, baju bayi dan lain sebagainnya. Untuk menjelaskan satu paragraf biasanya membutuhkan waktu satu jam. Dan kalimat yang beliau ucapkan mengalir seperti air di sungai. Ya Rabb…..hidupnya digunakan untuk membaca dan mengajar.
Pernah sekali saat ders aku memainkan pulpenku sehingga mengeluarkan suara. Karena heningnya ruangan itu dan hanya ada satu orang yang berbicara sehingga sura pulpenku itu terdengar keseluruh ruangan. Dan kontak seluruh mata melihat kearahku. Sungguh malu, memalukan dan yah begitulah…
Satu pesan beliau buyuk abla untukku “Putriku kau harus banyak membaca, jawaban dari semua pertanyaanmu tentang kehidupan ada pada Risalah Nur. Kiblat kecil adalah nurani, di dalamnya ada kebenaran karenanya ikutilah. Dan surga kecilmu ada pada Imanmu. Semakin kuat imanmu semakin indah pula surgamu”. Ini kalimat yang bisa kupahami dari perkataannya.
Hampir setiap hari dershane ini penuh dengan wanita-wanita yang haus akan ilmu iman, ilmu hakikat. Anak-anak, remaja, dewasa, orang tua semua ada disini. Bel apartemen tak berhenti berbunyi apalagi hari jum’at jadwal umumi ders.
Mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Mengajariku dengan penuh kesabaran, berbicara dengan kelembutan, memanggil dengan panggilan kasih, menatap dengan lem’a dan senyuman mereka yang sungguh membuatku merasa diterima ditempat ini.
Setiap bertanya tanpa rasa malu kudengar pujian mereka kepada Allah “MASYA ALLAH”. Pikirku kenapa aku harus malu dan takut, aku kesini untuk belajar dan jika aku tak mengambil bagian dari diskusi maka aku mungkin tak akan membawa pulang apapun ke Indonesia. Datang kosong pulangpun kosong, sungguh sayang sekali.. (hasya).
Hari-hari pertama di dershane aku agak putus asa. Namun ketika kuingat bahwa aku disini karena Allah, Insya Allah tak akan ada kesulitan kecuali aku sendiri yang mempersulit diriku sendiri dengan keluhan dan ketidaksyukuran.
Kumulai ders dengan mengharapkan berkah atas apa yang kudengar dan niat dalam hatiku untuk menuntut ilmu iman, ilmu yang bermanfaat. Sampai pada akhirnya kutemukan cara belajar, saat kuingat masa-masa di pesantren. Belajar kitab gundul dengan menuliskan arti perkata di dalam kitab gundul. Dan aku menggunakan cara itu disini,…..Allahu akbar….
Yang paling membuatku salut dan ingin aku pelajari dari mereka adalah ketika mereka melihat sesuatu yang mengagumkan misalnya datangnya dari diriku, sedikitpun tak ada pujian untukku tapi pujiannya itu kepada Allah. Seperti kalimat “Masya Allah, Barekallah, atau Subhanallah”.
Risalahnur membimbing kita untuk menemukan allah disetiap ciptaanNya. Cerminan Asma Allah seluruhnya ada pada ciptaanNya. Maka orang-orang yang berfikir akan melihat dan menemukan sehingga sifat kasihnya terhadap makhluk itu terpancar benar-benar dari dalam nuraninya. Berbeda dengan orang yang fasik, yang menjadikan sebab sebagai Tuhan, Naudzubillah semoga kita tak termasuk di dalamnya…Amin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar