
Catatan ini adalah bagian dari Risalah Nur Karya Bediuzzaman Said Nursi
Surat ke 8, Pertanyaan ke 4 dari Mektubat(Kumpulan Surat)
Cinta pada lawan jenis, yang disebut cinta hiasan oleh orang – orang suci dan ulama islam, kadang-kadang ternyata berubah menjadi cinta pada Sang pencipta, yaitu cinta sejati. Apakan mungkin juga cinta dunia, yang dimiliki kebanyakan orang, berubah menjadi cinta Allah?
Jawab. Dunia ini mempunyai dua muka: muka pertama adalah yang fana dan sekejap, dan muka yang lain adalah cermin tempat terwujudnya asma-asma Allah, dan sebuah ladang yang ditebari benih untuk dipanen dikehidupan yang akan datang . kalau pencintanya mampu menoleh dari wajah yang sekejap itu kearah wajah yang lain, maka cintanya akan dunia dapat berubah menjadi cinta Allah. Ada satu persyaratan lagi untuk perubahan cinta ini yaitu manusia tidak boleh salah sangka, dan mengira dunia fana kecilnya itu sebagai dunia sana yag sangat luas. Seperti orang – orang yang tersesat , manusia bisa lupa siapa dirinya , ia masuk kedalam dunia exsternal dan jatuh cinta dengannya , maka ia akan jatuh dalam lembah pemujaan alam, kecuali ada tangan luar biasa yang menyelamatkannya.
Untuk memahami kebenaran ini, renungkan alnalogi berikut:
Bayangkan kita bertempat didalam sebuah ruang berdinding empat dan masing-masing dinding diberi cermin besar, sebesar dinding itu. Paling tidak akan terlihat lima ruang, satu ruang adalah ruang yang nyata dan sama – sama didiami keempat orang itu, dan satu ruang bayangan masing-masing cermin. Masing-masing dari kita ( keempat orang ) dapat mengubah bentuk, penampilan dan warna ruangannya sendiri dengan memanipulasi cerminnya sendiri, misalnya kita bisa mengubahnya menjadi hijau atau merah dengan mengecat cermin dan kita pun bisa membuatnya berbentuk lain. Dan untuk ruang yang sebenarnya yang sama-sama ditinggali, kita tidak begitu saja dapat mengubahnya . meskipun kedua ruang, ruang pribadi dan umum, hampr tanpak sama, tetapi sifat dan mudah tidaknya diatur sangat berbeda. Anda dapat menghancurkan ruang pribadi hasil cerminan anda dengan jari tangan, tetapi anda tidak bisa meskipun sekedar memindahkan sebuah batu dari ruang sesungguhnya.
Demikian juga dunia adalah tempat yang berhias indah. Hidup masing-masing orang adalah sebuah cermin besar. Dalam tempat ini, masing-masing dari kita mempunyai dunia pribadi, pilar pusat dan gerbang sendiri, dan itulah hidupnya. Dunia pribadi kita bisa juga dibandingkan dengan sebuah halaman buku, disana tertulis perbuatan kita dengan penuh hdup kita. Kita mencintai dunia kita , tetapi kiata harus menyadari bahwa dunia ini dibangun disekitar hidup kita. Oleh karena itu, dunia kita ini. Seperti hidup kita, bersifat sementara, tidak abadi, dan fana. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan adalah memikirkan perwujudan asma-asma Allah, bukan hal-hal yang fana. Selain itu, kita seharusnya mengenali dunia pribadi kita yang telah diangerahkan kepada kita sehingga kita bisa menebarkan benih-benih supaya bisa hidup di surga kita. Dengan demikian kita hendaknya mencintai dunia ini demi buah yang akan kita petik didunia akhirat. Jika kita bisa melakukan, artinya jika kita mampu mengabdikan cinta kita pada buah-buah perbuatan kita dan perwujudan illahi, maka cinta pada dunia akan berubah menjadi cinta pada Allah. Akan tetapi, seperti yang diuraikan dalam ayat, “Dan janganlah kamu seperti orang- orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri , mereka itulah orang- orang yang fasik2 , adalah mungkin bagi manusia untuk tenggelam dalam dunia pribadi karena dengan melupakan diri-sendiri dan kesementaraan dunia pribadinya, mereka menyia-nyiakan diri sendiri dengan menjalani kehidupan duniawi ini seolah-olah kehidupan dunia ini abadi dan akan abadi.
Cinta pada wajah sementara dari lima dunia itu adalah sumber rasa sakit dan penderitaan tiada akhir karena cinta tersebut menguatkan kasih sayang yang menyedihkan dan membuat cinta dengan hati lembut menjadi tidak punya harapan. Seorang pecinta yang sensitif merasa kasihan pada semua makhluk, sehingga perasaannya selalu terluka oleh binasa semua makhluk yang fana dan indah. Karena ia tidak dapat melakukan apapun untuk makhluk-makhluk itu, ia akan sagat menderita dalam ketidakberdayaan, sebaliknya, orang yang telah menemukan Allah akan menemukan obat untuk penyakit yang disebabkan oleh rasa sayang dan hati lembut. Karena ia menganggap bahwa jiwa-jiwa makhluk hidup, yang merasakan kasihan terhadap apa yang binasa, adalah cermin tempat dipantulkannya Nama- nama kekal dari Yang Maha Kekal, maka kelembutan hatinya berubah menjadi penerimaan kenikmatan dan kelapangan hati. Ia melihat bahwa dibalik makhluk-makhluk yang mudah binasa, fana tetapi indah itu, adalah perwujudan abadi keanggunan murni dan keindahan suci, yang diwujudkan melalui keterampilan dan hiasan yang rumit-halus, adalah keajaiban-keajaiban yang disukai dan menerangi jiwanya. Dengan demikian, ia memahami bahwa kematian dan pembinasaan sebenarnya adalah sebuah proses pembaruan untuk menyegarkan kembali dan meningkatan keindahan dan kenikmatan, dan untuk meningkatkan keterampilan seni ilahi yang teramati dalam alam semesta. Sehingga, kesenangannya dan penghargaannya pada segala perwujudan ilahi dan kegairahan akan perwujudan-perwujudan itu meningkat.
Hanya Yang Maha Kekal sajalah yang abadi.
Said Nursi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar