Ini adalah salah satu kisahku di Turki yang sangat sulit kulupakan. Mungkin bagi teman-teman yang sudah pernah bertemu denganku, sudah tau tentang kisahku ini.
Aku datang di Turki dengan Nama Nura, Namun sebagian teman salah menyebutkannya. Selalu saja Nurah mereka memanggilku. Namun aku tak suka jika ada huruf "H" di belakangnya karena bagiku perubahan kata "Nura" ke "Nurah" bagai perubahan makna dari kata "Nur" dan "Nar". Singkat cerita, dengan alasan itu nama panggilanku diganti dengan nama "Nuriye".
Nuriye adalah nama ibu dari Ust. Said Nursi. Dan dengan bangga aku menyandang nama itu...hehehe.
Waktu itu ada acara ders kamp (acara kajian bersama) yang dilaksanakan di Istanbul. Saudari2 dari berbagai daerah datang diantaranya Kayseri, Samsung, Ankara, dll. Dan aku menjadi satu-satunya orang asing disana. Semua orang yang tinggal di dershane ada disana. Setiap dershane biasanya mempunyai paling banyak 10 orang yang menetap di dershane. Dan saat itu ada sekitar 60 orang yang menghadiri kamp itu selama 7 hari. Dershanenya memang lumayan besar. Bisa dibilang 4 lantai apartemen itu semua digunakan.
Disana ada seorang buyuk abla (kakak perempuan ) yang paling besar namanya Zubeyda abla. Beliau sangat ditakuti dan dihormati di dershane itu. Dia tak suka orang yang malas dan sangat sayang pada kami semua. Dan aku yang selalu membuat orang lain kagum dengan kecakapanku berbicara dengan bahasa turki, ketekunanku dalam membaca kitab-kitab, dan pemahaman tentang risalahnur yang sebenarnya sangat minim sekali jika dibandingkan dengan mereka, namun dalam waktu yang singkat sudah menunjukkan hasil. Semua itu sedikitpun tidak mempengaruhi pandangan Zubeyda abla kepadaku. Bahwa aku adalah anak ingusan dan sebenarnya tak patut mengikuti kamp itu, karena kamp itu ditujukan untuk orang-orang yang sudah paham dengan Risalahnur.
Namun aku katakan bahwa aku datang keisni untuk belajar, dan kalian harus menerimaku. Demi untuk bisa ikut memahami ders walau hanya sedikit saat ders dibacakan, aku membaca kitab-kitab sebelum kitab itu dikaji. Aku memahami sesuai dengan tingkat pemahamanku sendiri.
Saat ders meskipun beliau Zubeyda Abla seperti menunjukkan tidak sukanya beliau denganku tapi beliau selalu bertanya
"Nuriye kizim anladin mi?" (Putriku Nuriye mengertikah kamu?)
"Anladim insya Allah, ama sizin anladigini kadar degil tabiki" ( aku mengerti tapi tentunya tidak seperti yang kalian pahami)
Jika aku tak paham aku selalu bertanya
"abla...ben anlamadim" (mba...aku tidak mengerti)
"anladigini kadar yeter, Nuriye" (Apa yang kamu pahami saat ini cukup Nuriye)
3 hari berlanjut kalimat di atas selalu kuulangi dan aku selalu mendapatkan jawaban yang sama. Sampai pada ahirnya aku tidak sabar.
"ben anlamadim, bana ders ver lutfen, biraz daha memleketim donecegim. Ama bu kadar yetmez. ben daha fazla bilmek istiyorum" (aku tidak mengerti, berikan pelajaran padaku tolonglah!. Tidak lama lagi aku akan kembali ke negaraku. Ama apa yang aku dapatkan ini tak cukup. aku tau lebih banyak lagi). Kataku sambil meneteskan air mata
"Nuriye kizim, masya Allah sen cok caliskan sin. Ama canim kanaatsizda guzel degil"(Putriku Nuriye, kamu sangat tekun masya Allah, tapi tidak merasa puaspun tak baik)
Aku diam diberi gelar baru oleh beliau. Tapi aku tak juga paham. Kupikir aku harus banyak belajar karena aku akan kembali ke Indonesia untuk menyebar Iman, memberi kabar gembira pada umat islam di Indonesia bahwa dengan Iman kita akan selamat. Namun bagaimana aku dapat membagi ilmu jika aku tak dapat apa-apa disini.
Aku selalu mengeluhkan itu kepada mereka saudari2ku disana. Dan lagi mereka berkata "Kanaatsiz Nuriye, bu anlama vardir Nuriye, dusun sana. Bulursa cok memnun olursun"(Tidak merasa puas Nuriye, arti dari semua ini ada Nuriye, Pikirkanlah)
Memasuki hari ke 5 aku mendapatkan kabar kalau kami akan pulang lebih cepat ke Kayseri. Aku sedih sekali karena aku sepertinya tak mendapatkan apa-apa dari kamp itu. Kajian yang terlalu tinggi tentang tingkat Ma'rifatullah dan Ismu adzan yang merupakan kunci iman membuatku merasa sedih sekali.
Saat ders aku sekali membuat ulah, dengan menangis aku berkata "abla anlamiyorum, banada anlat!!!!"(abla aku tidak paham, jelaskan juga padaku)
Sekali lagi buyuk abla itu berkata "kizim, sen, ve herkes pek anlamiyorlar. ama guzel dinle, ne anlarsin sana o kadar yeter, tamamma"(Putriku kamu dan semua tidak terlalu menerti. tapi dengarkanlah dengan baik, apa yang kamu pahami itu sudah cukup untukmu, ok!!!!!)
Aku masih juga melawan lalu buyuk abla berkata lpada seorang saudari "Fatmanur, sen nuriye ile mutfaka git , oraya ona ders yap veen cami bir ders ver, anladin mi Fatma nur?(Famanur, pergilah ke dapur bersama Nuriye, disana berilah pelajaran padanya, sudah mengerti fatmanur?)
Lalu aku dan Fatmanur yang berumur 16 tahun itu meninggalkan ruang ders menuju dapur.
Dalam perjalanan ke dapur kepadaku ia berkata (Nuriye abla kamu sangat manis, tapi dengan kanaatsiz kamu tidak akan mendapatkan apa-apa)
Setelah sampai di dapur
"yemek istiyormusun abla?"(apa kamu mau makan abla?) sambil memperlihatkan 5 batang panjang roti. Dan dia berharap aku menghabiskannya semua
"Yok yedim"(tidak, aku sudah makan) kataku tersenyum
"o zaman cay icecegiz" (kalau gitu kita minum teh) sambil memanaskan air
Teh pun siap. Di sana kami selalu memberi gula sendiri pada cangkir teh kami. Dia menyiapkan satu mangkuk kup seker(gula berbentuk kotak ukuran kecil). Biasanya aku menggunakan 3 biji kup gula untuk satu cangkir.
"daha fazla koy abla!!!"(tuanglah lebih banyak lagi abla) kata Fatma nur
"yok, cok tatli icemem ve hasta olurum" (tidak, terlalu manis tidak kuminum dan aku bisa sakit)
"iyi, simdi anlarsin..." (baik kini kamu paham...) kata Fatmanur sambil tersenyum
Aku bingung apa maksudnya.
Kata dia "Kamu tidak bisa menghabiskan satu mangkuk gula ini untuk satu cangkir teh karena kamu takkan bisa meminumnya juga akan membuatmu sakit. Begitu juga dengan ilmu. Kamu tak bisa menerima semua pelajaran dalam satu waktu, jika kamu memaksa maka kamu tidak akan kuat untuk menerimanya berujung keputus asaan melandamu dan itu adalah satu penyakit yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu. Buanglah kanaatsiz dalam dirimu (merasa tidak puas). Apa yang kamu pahami saat ini itu cukup untukmu karena ia akan seperti pohon yang terus tumbuh dan ahirnya buahnya bisa dinikmati oleh orang lain. Dengan kanaatsiz kamu mungkin punya banyak pohon tapi semua pohon itu tidak bisa tumbuh dengan sempurna hingga tak menghasilkan apa-apa."
Aku menangis mengakui kebodohanku, kanaatsizku ini menutup rasa syukurku pada Rabb, karena ternyata pemahaman itu dari Allah dan kita hanya bisaberusaha. Seberapa besar yang pemahaman yang Allah berikan untuk kita maka itu cukup untuk kita saat itu. Bagai paragraf yang bisa menjadi karangan panjang yang indah dan dapat dinikmati oleh banyak orang.
Kami kembali keruang ders.
Buyuk abla bertanya padaku "anladin mi Nuriye?" (sudah mengerti nuriye?)
"Anladim abla, Allah razi olsun" (Aku mengerti abla, Semoga Allah meridhoimu)
Saat kami di ruang ders hampir semua orang sudah menjelaskan apa yang dipahaminya dari pelajaran selama 5 hari disana. Tiba waktunya aku yang harus menjelaskannya.
Sebelumnya aku memohon maaf karena bahasa turkiku yang tidak selancar mereka. Aku menjelaskan apa yang kupahami. DAn ternnyata pemahamanku tidak seburuk yang kupikirkan...
Dan akhirnya aku sadar bahwa rasa tak puas bisa menutup rasa syukur kepada Allah atas apa yang telah Ia berikan. Padahal Allah maha Adil. Allah tau jumlah atau kadar pemberiannya cukup atau tidak untuk hambaNya. Alhamdulillah aku mengerti akan hal ini sebelum aku kembali ke Indonesia. Dan kamp itu menjadi kamp terindah untuk ku. Juga aku menemukan seorang yang luar biasa seperti Zubeyda abla..
Ternyata perlakuannya selama ini kepadaku hanya untuk menghilangkan keegoisan dan kesombonganku karena ananiyyah di dalam diri akan menghalangi ilmu untuk mengenal Allah.
Sebelum kami pulang beliau mengajak kami berkeliling Istanbul termasuk tempat-tempat bersejarah disana. Dan beliau memasangkan cicin perak di tanganku. Saat teman2 melihat cincin itu ada yang berkata padaku "semua dershane binaannya, kepala dershanenya selalu diberikan cincin perak, dan semoga kamu salah satu orang yang akan mengabdi untuk ummat menyebar cahaya iman, amin"......
Sekali lagi KANAATSIZ hindarilah.............
Nuriye adalah nama ibu dari Ust. Said Nursi. Dan dengan bangga aku menyandang nama itu...hehehe.
Waktu itu ada acara ders kamp (acara kajian bersama) yang dilaksanakan di Istanbul. Saudari2 dari berbagai daerah datang diantaranya Kayseri, Samsung, Ankara, dll. Dan aku menjadi satu-satunya orang asing disana. Semua orang yang tinggal di dershane ada disana. Setiap dershane biasanya mempunyai paling banyak 10 orang yang menetap di dershane. Dan saat itu ada sekitar 60 orang yang menghadiri kamp itu selama 7 hari. Dershanenya memang lumayan besar. Bisa dibilang 4 lantai apartemen itu semua digunakan.
Disana ada seorang buyuk abla (kakak perempuan ) yang paling besar namanya Zubeyda abla. Beliau sangat ditakuti dan dihormati di dershane itu. Dia tak suka orang yang malas dan sangat sayang pada kami semua. Dan aku yang selalu membuat orang lain kagum dengan kecakapanku berbicara dengan bahasa turki, ketekunanku dalam membaca kitab-kitab, dan pemahaman tentang risalahnur yang sebenarnya sangat minim sekali jika dibandingkan dengan mereka, namun dalam waktu yang singkat sudah menunjukkan hasil. Semua itu sedikitpun tidak mempengaruhi pandangan Zubeyda abla kepadaku. Bahwa aku adalah anak ingusan dan sebenarnya tak patut mengikuti kamp itu, karena kamp itu ditujukan untuk orang-orang yang sudah paham dengan Risalahnur.
Namun aku katakan bahwa aku datang keisni untuk belajar, dan kalian harus menerimaku. Demi untuk bisa ikut memahami ders walau hanya sedikit saat ders dibacakan, aku membaca kitab-kitab sebelum kitab itu dikaji. Aku memahami sesuai dengan tingkat pemahamanku sendiri.
Saat ders meskipun beliau Zubeyda Abla seperti menunjukkan tidak sukanya beliau denganku tapi beliau selalu bertanya
"Nuriye kizim anladin mi?" (Putriku Nuriye mengertikah kamu?)
"Anladim insya Allah, ama sizin anladigini kadar degil tabiki" ( aku mengerti tapi tentunya tidak seperti yang kalian pahami)
Jika aku tak paham aku selalu bertanya
"abla...ben anlamadim" (mba...aku tidak mengerti)
"anladigini kadar yeter, Nuriye" (Apa yang kamu pahami saat ini cukup Nuriye)
3 hari berlanjut kalimat di atas selalu kuulangi dan aku selalu mendapatkan jawaban yang sama. Sampai pada ahirnya aku tidak sabar.
"ben anlamadim, bana ders ver lutfen, biraz daha memleketim donecegim. Ama bu kadar yetmez. ben daha fazla bilmek istiyorum" (aku tidak mengerti, berikan pelajaran padaku tolonglah!. Tidak lama lagi aku akan kembali ke negaraku. Ama apa yang aku dapatkan ini tak cukup. aku tau lebih banyak lagi). Kataku sambil meneteskan air mata
"Nuriye kizim, masya Allah sen cok caliskan sin. Ama canim kanaatsizda guzel degil"(Putriku Nuriye, kamu sangat tekun masya Allah, tapi tidak merasa puaspun tak baik)
Aku diam diberi gelar baru oleh beliau. Tapi aku tak juga paham. Kupikir aku harus banyak belajar karena aku akan kembali ke Indonesia untuk menyebar Iman, memberi kabar gembira pada umat islam di Indonesia bahwa dengan Iman kita akan selamat. Namun bagaimana aku dapat membagi ilmu jika aku tak dapat apa-apa disini.
Aku selalu mengeluhkan itu kepada mereka saudari2ku disana. Dan lagi mereka berkata "Kanaatsiz Nuriye, bu anlama vardir Nuriye, dusun sana. Bulursa cok memnun olursun"(Tidak merasa puas Nuriye, arti dari semua ini ada Nuriye, Pikirkanlah)
Memasuki hari ke 5 aku mendapatkan kabar kalau kami akan pulang lebih cepat ke Kayseri. Aku sedih sekali karena aku sepertinya tak mendapatkan apa-apa dari kamp itu. Kajian yang terlalu tinggi tentang tingkat Ma'rifatullah dan Ismu adzan yang merupakan kunci iman membuatku merasa sedih sekali.
Saat ders aku sekali membuat ulah, dengan menangis aku berkata "abla anlamiyorum, banada anlat!!!!"(abla aku tidak paham, jelaskan juga padaku)
Sekali lagi buyuk abla itu berkata "kizim, sen, ve herkes pek anlamiyorlar. ama guzel dinle, ne anlarsin sana o kadar yeter, tamamma"(Putriku kamu dan semua tidak terlalu menerti. tapi dengarkanlah dengan baik, apa yang kamu pahami itu sudah cukup untukmu, ok!!!!!)
Aku masih juga melawan lalu buyuk abla berkata lpada seorang saudari "Fatmanur, sen nuriye ile mutfaka git , oraya ona ders yap veen cami bir ders ver, anladin mi Fatma nur?(Famanur, pergilah ke dapur bersama Nuriye, disana berilah pelajaran padanya, sudah mengerti fatmanur?)
Lalu aku dan Fatmanur yang berumur 16 tahun itu meninggalkan ruang ders menuju dapur.
Dalam perjalanan ke dapur kepadaku ia berkata (Nuriye abla kamu sangat manis, tapi dengan kanaatsiz kamu tidak akan mendapatkan apa-apa)
Setelah sampai di dapur
"yemek istiyormusun abla?"(apa kamu mau makan abla?) sambil memperlihatkan 5 batang panjang roti. Dan dia berharap aku menghabiskannya semua
"Yok yedim"(tidak, aku sudah makan) kataku tersenyum
"o zaman cay icecegiz" (kalau gitu kita minum teh) sambil memanaskan air
Teh pun siap. Di sana kami selalu memberi gula sendiri pada cangkir teh kami. Dia menyiapkan satu mangkuk kup seker(gula berbentuk kotak ukuran kecil). Biasanya aku menggunakan 3 biji kup gula untuk satu cangkir.
"daha fazla koy abla!!!"(tuanglah lebih banyak lagi abla) kata Fatma nur
"yok, cok tatli icemem ve hasta olurum" (tidak, terlalu manis tidak kuminum dan aku bisa sakit)
"iyi, simdi anlarsin..." (baik kini kamu paham...) kata Fatmanur sambil tersenyum
Aku bingung apa maksudnya.
Kata dia "Kamu tidak bisa menghabiskan satu mangkuk gula ini untuk satu cangkir teh karena kamu takkan bisa meminumnya juga akan membuatmu sakit. Begitu juga dengan ilmu. Kamu tak bisa menerima semua pelajaran dalam satu waktu, jika kamu memaksa maka kamu tidak akan kuat untuk menerimanya berujung keputus asaan melandamu dan itu adalah satu penyakit yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu. Buanglah kanaatsiz dalam dirimu (merasa tidak puas). Apa yang kamu pahami saat ini itu cukup untukmu karena ia akan seperti pohon yang terus tumbuh dan ahirnya buahnya bisa dinikmati oleh orang lain. Dengan kanaatsiz kamu mungkin punya banyak pohon tapi semua pohon itu tidak bisa tumbuh dengan sempurna hingga tak menghasilkan apa-apa."
Aku menangis mengakui kebodohanku, kanaatsizku ini menutup rasa syukurku pada Rabb, karena ternyata pemahaman itu dari Allah dan kita hanya bisaberusaha. Seberapa besar yang pemahaman yang Allah berikan untuk kita maka itu cukup untuk kita saat itu. Bagai paragraf yang bisa menjadi karangan panjang yang indah dan dapat dinikmati oleh banyak orang.
Kami kembali keruang ders.
Buyuk abla bertanya padaku "anladin mi Nuriye?" (sudah mengerti nuriye?)
"Anladim abla, Allah razi olsun" (Aku mengerti abla, Semoga Allah meridhoimu)
Saat kami di ruang ders hampir semua orang sudah menjelaskan apa yang dipahaminya dari pelajaran selama 5 hari disana. Tiba waktunya aku yang harus menjelaskannya.
Sebelumnya aku memohon maaf karena bahasa turkiku yang tidak selancar mereka. Aku menjelaskan apa yang kupahami. DAn ternnyata pemahamanku tidak seburuk yang kupikirkan...
Dan akhirnya aku sadar bahwa rasa tak puas bisa menutup rasa syukur kepada Allah atas apa yang telah Ia berikan. Padahal Allah maha Adil. Allah tau jumlah atau kadar pemberiannya cukup atau tidak untuk hambaNya. Alhamdulillah aku mengerti akan hal ini sebelum aku kembali ke Indonesia. Dan kamp itu menjadi kamp terindah untuk ku. Juga aku menemukan seorang yang luar biasa seperti Zubeyda abla..
Ternyata perlakuannya selama ini kepadaku hanya untuk menghilangkan keegoisan dan kesombonganku karena ananiyyah di dalam diri akan menghalangi ilmu untuk mengenal Allah.
Sebelum kami pulang beliau mengajak kami berkeliling Istanbul termasuk tempat-tempat bersejarah disana. Dan beliau memasangkan cicin perak di tanganku. Saat teman2 melihat cincin itu ada yang berkata padaku "semua dershane binaannya, kepala dershanenya selalu diberikan cincin perak, dan semoga kamu salah satu orang yang akan mengabdi untuk ummat menyebar cahaya iman, amin"......
Sekali lagi KANAATSIZ hindarilah.............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar