Sabtu, 12 September 2009

CAHAYA, KEDUA PULUH SATU
(Risalah Ikhias II)

Tadinya, cahaya ini merupakan masalah keempat dari tujuh masalah yang terdapat pada catatan ketujuh beias dari cahaya ketujuh belas. Hanya saja ia kemudian menjadi catatan kedua dari cahaya kedua puluh. Selanjutnya, sesuai dengan topiknya—yaitu masalah ikhlas— serta berdasarkan bahasannya, ia menjadi cahaya kedua puluh satu dan masuk dalam kitab al-Lama'at (Cahaya-cahaya). (Cahaya ini paling tidak dibaca lima belas hari sekali)
Bismillahirrahmanirrahim
wur (#qããt“»uZs? (#qè=t±øÿtGsù =ydõ‹s?ur ö/ä3çt†Í‘ (الانفال: 46)
janganlah kalian berbantah-bantahan hingga menyebabkan kalian menjadi gentar dan kehilangan kekuatan. (QS. al-Anfal: 46)
((#qãBqè%ur ¬! tûüÏFÏY»s% (البقرة: 238)
Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) secara khusyu. (QS. al-Baqarah:
238)
ô‰s% yxn=øùr& `tB $yg8©.y— . ô‰s%ur z>%s{ `tB $yg9¢™yŠ (الشمس: 9 – 10 )
Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya. (QS. asy-Syams: 9-10)
wur (#rçŽtIô±n@ ÓÉL»tƒ$t«Î/ $YYuKrO WxŠÎ=s% }‘»­ƒÎ)ur Èbqà)¨?$$sù (البقرة: 41)
Janganlah kalian menukar ayat-ayatKu dengan harga yang rendah. (QS. al-Baqarah: 41)
PENTINGNYA KEIKHLASAN
Wahai saudara-saudara seaeama, wahai teman-teman yang mengabdikan diri pada al-Quran, ketahuilah—dan kalian sebetulnya mengetahui—bahwa ikhlas dalam amal, apalagi amal ukhrawi, merupakan landasan paling penting, kekuatan paling besar, penolong yang paling bisa diharapkan, sandaran yang paling kokoh, jalan paling singkat menuju kebenaran, seruan yang paling benar, sarana paling mulia, perangai yang paling utama, serta pengabdian yang paling suci.
Karena ikhlas merupakan cahaya yang bersinar terang dan meru­pakan kekuatan kokoh seperti yang disebutkan di atas, juga karena karunia Ilahi telah membebani kita dengan tugas suci dan berat, serta pengabdian yang agung, yaitu tugas keimanan dan mendakwahkan al-Quran, sementara jumlah kita sangat sedikit, lemah, dan papa, lalu kita menghadapi musuh yang kuat dan berbagai kesulitan, ditambah lagi dengan banyaknya bidah dan kesesatan yang mengepung kita di masa sulit ini, maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali mengerahkan segata upaya dan kemampuan untuk bisa ikhlas. Kita betul-betul harus bersikap ikhlas. Bahkan hal itu rnenjadi keharusan. Yang paling kita butuhkan sekarang adalah bagaimana menguatkan keikhlasan dalam diri kita. jika tidak, semua tugas suci yang kita la-kukan akan menjadi sia-sia. Pengabdian kita tidak akan bertahan lama. Lalu kitapun akan dihisab dengan hisab yang sulit. Sebab, kita termasuk orang yang diancam Tuhan dengan firmanNya yang ber-bunyi,
wur (#rçŽtIô±n@ ÓÉL»tƒ$t«Î/ $YYuKrO WxŠÎ=s% }‘»­ƒÎ)ur Èbqà)¨?$$sù (البقرة: 41)
Janganlah kalian menukar ayat-ayatKu dengan harga yang rendah. (Q5-al-Baqarah: 41}
Hal itu karena kita tidak bersikap ikhlas hingga merusak kebahagiaan abadi hanya demi keinginan duniawi yang hina, rendah, berbahaya, kotor, dan tak berguna, serta demi keuntungan pribadi yang tak ada artinya seperti kagum terhadap diri sendiri dan riya. Selain itu kita termasuk orang yang melanggar hak-hak saudara kita sendiri dalam mengabdi, melanggar prinsip pengabdian kepada al-Quran,
serta termasuk orang yang kurang adab dengan tidak menghormati kesucian dan ketinggian hakikat keimanan.
Wahai saudara-saudaraku, berbagai urusan penting yang menuju kepada kebaikan dan berbagai langkah mulia yang menuju kepada kemaslahatan akan selalu dihadang oleh banyak penghalang dan rintangan berbahaya. Setan bersungguh-sungguh dan tekun dalam menghalangi dakwah suci tersebut. Karenanya, perlu bersandar pada keikhlasan untuk mengusir rintangan setan tadi. Maka itu, wahai saudara-saudaraku hindarkanlah berbagai hal yang bisa mengotori keikhlasan sebagaimana engkau menghindari kalajengking dan ular. Sama sekali jangan percaya dan berpegang pada nafsu yang memerintahkan kepada keburukan. Al-Quran telah menegaskan hal itu lewat lisan Nabi Yusuf as,
÷bÎ) y“̍ô_r& žwÎ) ’n?tã «!$# (يونس: 72)
Saya tidak membebaskan diriku dari (kesalahan). Sebab sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada keburukan, kecuali yang dikasihi oleh Tuhan. (QS. Yunus: 72)
Jangan sekali-kali engkau tertipu oleh egoisme, kesombongan, dan nafsu yang memerintah kepada keburukan. Untuk bisa mencapai dan memelihara keikhlasan, serta untuk menghilangkan segala penghalangnya, jadikanlah beberapa prinsip berikut sebagai semboyanmu:
PRINSIP-PRINSIP KEIKHLASAN
Prinsip Pertama: Mencari Ridho Allah dalam Beramai
Mencari ridho Allah dalam beramai. Apabila Allah Taala sudah ridho, biarpun seluruh alam berpaling tidak menjadi masalah. Kalau Allah sudah menerima, biarpun seluruh manusia menolak tidak akan berpengaruh. Manakala amal tersebut sudah diridhoi dan diterima, kalau Allah berkehendak mudah saja bagiNya untuk menjadikan manusia menerimanya meskipun tanpa kalian minta. Karena itu, ridho Allah sajalah yang seharusnya menjadi tujuan utama dalam mengabdikan diri pada al-Quran.
Prinsip Kedua: Tidak Mengkritik Saudara-saudaramu yang Mendakwahkan al-Quran
Tidak mengkritik saudara-saudaramu yang Ikut bekerja mendakwahkan al-Quran serta tidak membangkitkan kedengkian mereka lewat sikap bangga diri dan perasaan lebih unggul. Kita harus mencontoh kondisi tubuh manusia di mana kedua tangannya tak pernah saling mendengki, kedua matanya tak pernah saling mencela, lisannya tak pernah menentang telinganya, kalbunya tidak pernah melihat aib jiwanya. Tctapi rnasing-masing saling melengkapi kekurangan yang lain, menutupi aib yang lain, serta berusaha membantu dan menolongnya. Jika tidak, kehidupan tubuh itupun menjadi rusak, mati, dan berantakan.
Contoh lainnya adalah antara gerigi dan roda pabrik yang tak pernah saling iri, tak pernah saling mendahului, dan tak pernah saling menimbulkan kerusakan lewat kritikan, tindakan yang menyakiti, serta mencari aib dan cacat. Selain itu yang satu tidak berusaha untuk menghentikan kerja lainnya. Tetapi mereka saling membantu seoptimal mungkin guna mengarah pada tujuan yang diharapkan. Sehingga semuanya berjaian sesuai fungsinya dengan saling mendukung dan saling beriringan. jika ada unsur asing yang masuk ke dalamnya, meskipun hanya sebesar biji atom, maka pabrik itupun akan mengalami kerusakan. Dan si pemilik akan segera mengurai bagian-bagiannya dari awal.
Wahai para murid an-Nur serta para pelayan al-Quran, kita semua merupakan bagian-bagian dan organ-organ dalam satu tubuh yang layak disebut dengan insan kamil. Kita semua berposisi sebagai gerigi dan roda pabrik yang sedang merancang kebahagiaan abadi di kehidupan yang kckal nanti. Kita adalah para pelayan dan pekerja dalam sebuah perahu Tuhan yang membawa umat Muham­mad ke pantai keselamatan. Yaitu surga sebagai tempat kedamaian.
Kalau begitu, kita sangat membutuhkan adanya persatuan, kerja sama, dan rahasia keikhlasan yang mengantarkan pada kekuatan jiwa senilai seribu seratus sebelas (1111) sebagai basil kerja empat orang. Ya, jika tiga orang tidak bersatu, nilainya hanya tiga saja. Tetapi manakala bersatu dan bekerja sama, nilainya akan menjadi seratus
sebelas (111). Demikian pula dengan empat angka empat. Kalau masing-masing angka empat (4) ditulis secara terpisah, totalnya hanya berjumlah enam belas (16). Tetapi jika angka-angka tersebut menyatu lewat rahasia persaudaraan, serta tujuan dan misi yang sama dalam satu baris, ia akan senilai empat ribu empat ratus empat puluh empat (4444). Ada banyak peristiwa dan kejadian sejarah yang membuktikan bahwa enam belas orang yang saling bersaudara, bersatu, dan berkorban, berkat keikhlasan yang penuh, maka kekuatan maknawiyah mereka bertambah rnenjadi senilai dengan empat ribu orang.
Rahasianya adalah sebagai berikut. Setiap orang dari sepuluh orang yang benar-benar menyatu bisa melihat dengan mata saudara-saudaranya yang lain serta bisa mendengar dengan telinga mereka. Dengan kata lain, seolah-olah masing-masing mereka memiliki ke­kuatan maknawiyah dan kemampuan untuk melihat dengan dua puluh mata, berpikir dengan sepuluh akal, mendengar dengan dua puluh telinga, serta bekerja dengan dua puluh tangan.[1]
Prinsip Ketiga: Kekuatan Kebenaran
Sadarilah bahwa kekuatan kalian seluruhnya ada pada keikhlas­an dan kebenaran.
Ya, kekuatan tersebut ada pada keikhlasan dan kebenaran. Sampai-sampai kaum yang batil pun memperoleh kekuatan karena mereka menampakkan keteguhan dan keikhlasan dalam hal kebatilan.
Ya, pengabdian kita di jalan iman dan al-Quran juga menjadi dalil bahwa kekuatan terletak pada kebenaran dan keikhlasan. Sedikit keikhlasan yang diberikan dalam rangka pengabdian tersebut sudah menguatkan dan membuktikan hal itu. Sebab, pengabdian di jalan agama dan ilmu-ilmu syariah yang dilakukan selama lebih dari dua puluh tahun di kotaku[2] dan di Istambul, bisa dilakukan di sini[3] bersama kalian dengan seratus kali lebih berhasil dalam kurun waktu delapan tahun. Padahal, orang-orang yang membantuku di sana jumlahnya seratus kali bahkan seribu kali lebih banyak daripada di sini. Pengabdian yang dilakukan di sini selama delapan tahun dalam kondisi di mana aku sendirian dan asing semacam orang yang buta huruf[4] dengan di bawah pengawasan para petugas yang zalim serta di bawah tekanan mereka, alhamdulillah telah memberikan kekuatan maknawiyah serta telah membuahkan taufik dan kesuksesan seratus kali lipat dari yang sebelumnya. Karena itu, aku merasa puas karena taufik Tuhan tersebut terwujud karena keikhlasan kalian.
Aku mengakui bahwa kalian telah menolongku dengan keikhlas­an yang sempurna, jauh dari riya, sebuah penyakit kronis yang selalu bermain dalam nafsu manusia di bawah bayang-bayang popularitas dan reputasi.
Kami memohon kepada Allah Taala agar kalian diberi taufik menuju kepada keikhlasan yang sempurna serta semoga Dia mema-sukkan aku dan kalian semua ke dalamnya.
Ketahuilah bahwa Imam Ali ra. dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menatap kalian dengan penuh kelembutan, perhatian, dan kesejukan dalam bingkai karomah mereka yang luar biasa. Selain itu, mereka telah memberikan keberkahan kepada pengabdian kalian. Kalian harus yakin bahwa perhatian tersebut diberikan semata-mata berkat keikhlasan. Jika kalian merusak keikhlasan tersebut secara sengaja, maka kalian layak mendapat kecaman dan pelajaran dari manusia. Ingatlah selalu tamparan kasih sayang yang terdapat pada cahaya kesepuluh. Jika kalian ingin agar kedua orang mulia itu.
selalu menjadi guru dan penguat spiritual kalian, maka milikilah sikap ikhlas dan berbuatlah seperti yang dikatakan oleh al-Quran,
šcrãÏO÷sãƒur #’n?tã öNÍkŦàÿRr& (الحشر: 9)
lebih mengutamakan orang lain ketimbang diri mereka sendiri. (QS. al-Hasyr:9)

Dengan kata lain, kalian harus mengutamakan saudara-saudara kalian daripada diri kalian sendiri dalam hal tingkatan, kedudukan, penghormatan, perhatian, serta dalam hal materi yang nafsu manusia biasanya tamak dan senang kepadanya. Bahkan dalam berbagai hal yang bersifat tulus dan murni seperti mengajar hakikat keimanan kepada orang lain, sebisa mungkin janganlah kalian bertekad untuk mewujudkan hal itu sendirian. Tetapi usahakan untuk bergembira dan merasa lapang karena ia terwujud berkat yang lain agar rasa ujub tidak masuk ke dalam diri kalian.
Barangkali ada di antara kalian yang ingin agar hanya dirinyalah yang mendapat pahala sehingga berusaha untuk berdakwah sen­dirian. Meskipun hal ini tidak dosa tetapi ia bisa merusak keikhlasan di antara kalian.
Prinsip Keempat: Bangga dengan Keistimeivaan Para Saudara Seagama
Berbangga sambil bersyukur dengan kemuliaan yang dimiliki oleh saudara-saudara kalian, serta menganggap kemuliaan mereka itu sebagai bagian dari kemuliaan kalian.
Ada sebuah istilah yang beredar di antara para sufi, yaitu fana atau lebur dalam diri syaikh serta lebur dalam diri Rasul. Hanya saja aku bukanlah seorang sufi. Lebur dalam persaudaraan merupakan prinsip indah yang sangat sesuai dengan perjalanan kita. Dengan kata lain, setiap orang harus meleburkan diri pada yang lain. Yakni, ia harus melupakan ego pribadinya dan hidup bersama kemuliaan saudara-saudaranya. Sebab, landasan konsep kita adalah ukhuwah (persaudaraan) di jalan Allah. Hubungan yang mengikat kita adalah persaudaraan yang hakiki. Bukan hubungan antara anak dan ayah
Serta bukan pula hubungan antara guru dan murid. Kalaupun terpaksa, ia hanyalah hubungan dengan seorang pengajar. Karena perjalanan kita di dasari oleh kecintaan, maka yang kita kedepankan adalah adanya persahabatan. Selanjutnya persahabatan tersebut mengharuskan adanya teman yang tulus, sahabat yang mau berkorban, serta saudara yang sangat perhatian. Tentu saja dasar yang paling utama dari persahabatan itu adalah adanya keikhlasan yang sempurna. Siapa yang mengabaikan hal itu, ia akan terjatuh dari atas menara persahabatan yang tinggi. Dan barangkali ia terjatuh pada lernbah yang sangat dalam, sebab tidak ada tempat pertengahan.
Ya, hanya ada dua jalan. Siapa yang tidak mau berjalan bersama kita di atas keikhlasan ini—sebagai tema utama al-Quran—bisa jadi ia termasuk orang yang membantu kekufuran para musuh al-Quran tanpa ia sadari.
Mereka yang masuk ke dalam kancah pengabdian al-Quran yang suci lewat risalah-risalah an-Nur, insya Allah tidak akan terjatuh ke dalam lembah tadi. Sebaliknya cahaya, keikhlasan, dan keimanan akan memberinya kekuatan.
SARANA MENCAPA1 KEIKHLASAN
Pertama: Rabithatul Maut (Selalu Mengingat Mati)
Wahai saudara-saudaraku yang mengabdikan diri pada al-Quran: Sesungguhnya sarana terpenting untuk mendapatkan keikhlasan dan sebab utama yang efektif untuk bisa memelihara keikhlasan tersebut adalah rabithatul maut fselalu mengingat mati).
Apabila panjang angan-angan mengotori dan merusak keikhlasan serta mengantarkan manusia kepada cinta dunia dan riya, mengingat mati justru menjauhkan manusia dari riya dan menjadikan orang yang mengingatnya selalu memelihara keikhlasan. Sebab, ia bisa membersihkan orang tersebut dari nat'su yang memerintahkan kepada keburukan. Yaitu caranya dengan mengikatkan dirinya dengan kematian serta merenungkan musnahnya dunia. Karena itu, para ahli sufi dan ahli hakikat menjadikan rabithatul maut sebagai landasan dalam suluk mereka sesuai dengan bunyi ayat al-Quran yang mereka ketahui,
‘@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# (ال عمران: 185)
Setiap nafs (diri) pasti merasakan kematian. (QS. Ali Imran: 185)
y7¨RÎ) ×MÍh‹tB Nåk¨XÎ)ur tbqçFÍh‹¨B (الزمر: 30)
Sesungguhnya kamu akan mati dan merekapun akan mati. (QS. az-Zumar: 30)
Dengan mengingat mati, mereka tidak berpikir akan kekal abadi sebagai cikal bakal dari panjangnya angan-angan. Mereka justru membayangkan diri mereka sebagai orang-orang mati. Sekarang mereka dimandikan, lalu diletakkan di kubur. Ketika itu yang terbayang, jiwa yang cenderung kepada keburukan itupun akan sangat tersentuh. Selanjutnya sedikit demi sedikit jiwa tersebut melepaskan angan-angannya yang panjang. Karena itu, mengingat mati memberikan berbagai manfaat yang luas. Cukuplah sebagai petunjuk kepada hal itu hadits Nabi SAW. yang berbunyi, "Perbanyaklah me­ngingat sesuatu yang memotong segala kenikmatan".[5] Karena jalan kita adalah jalan hakikat ilmiah bukan tarekat sufi, maka kita tidak perlu seperti mereka yang langsung mengingat mati dengan bayangan dan khayalan. Selain itu, metode tersebut tidak cocok dengan metode kita. Sebab, merenungkan suatu akhir bukan berarti mendatangkan bayangan tentang masa depan ke masa sekarang. Juga bukan dengan memprediksikan masa depan dengan sesuatu yang ada pada saat ini. Jadi tidak perlu membayangkan dan tidak perlu mengkha-yalkan. Sebab manusia bisa menyaksikan jenazahnya sebagai buah dari pohon umurnya yang singkat. Ketika manusia sedikit saja me-ngalihkan perhatiannya, ia tidak hanya menyaksikan kematian dirinya semata, tetapi juga akan menyaksikan kematian zamannya. Lebih dari itu, ia akan melihat kematian dan kehancuran dunia. Dari sini, terbukalah jalan baginya menuju kepada keikhlasan yang sempurna.
Kedua: Merenungi Makhluk
Sebab kedua untuk bisa sampai kepada ikhlas adalah memperoleh keyakinan hakiki serta cahaya yang bersumber dari perenungan terhadap seluruh makhluk.
Perenungan tersebut bisa mengantarkan seseorang untuk mengenal Sang Maha Pencipta sehingga kalbunya menjadi tenang dan tenteram. Benar, perenungan yang dilakukan seseorang akan membuatnya merasa diawasi dan dilihat Allah Taala. Dengan kata lain, Allah senantiasa hadir dan menatapNya. jika kondisi ini dicapai ia tidak akan berpaling kepada selainNya dan tidak akan merninta tolong kecuali kepadaNya sebab melihat dan berpaling kepada se­lainNya menunjukkan sikap yang kurang etis di hadapanNya. Dengan ini, manusia akan seiamat dan terlepas dari penyakit riya sekaligus dengan izin Allah ia akan bisa ikhlas.
Namun demikian, perenungan tersebut memiliki banyak tingkatan dan tahapan. Bagian seseorang bergantung pada apa yang diperoleh-nya. Keuntungan yang ia miliki adalah yang ia dapatkan dari pere­nungan tadi sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
Hal ini kita cukupkan sampai di sini dan kita bisa merujuk kepada berbagai risalah art-Nur yang mengupas berbagai hakikat yang bisa mengantarkan seseorang untuk seiamat dari riya dan bisa menggapai ikhlas.
PENGHALANG KEIKHLASAN
Selanjutnya dengan singkat kami akan menjelaskan beberapa faktor dari banyak faktor yang bisa merusak dan menghalangi ke-ikhlasan, serta mendatangkan sikap riya:
Pertama adalah rasa dengki yang mitncul dari keuntungan yang bersifat materi. Dua contoh kesinambungan ikhlas
Kedengkian tersebut akan merusak keikhlasan secara perlahan-lahan. Bahkan ia akan mengubah hasil sebuah amal. Lebih dari itu, ia juga bisa menghapus keuntungan yang bersifat materi tadi.
Ya, umat ini selalu menghormati dan menghargai para juru dak wah yang dengan tekun bekerja demi kebenaran dan akhirat. Umat ini juga senantiasa memberikan bantuan kepada mereka. Semua itu dilakukan dengan niat ikut berpartisipasi bersama mereka dalam melakukan amal dan pengabdian yang tulus ikhlas karena Allah. Berbagai hadiah dan sedekah diberikan guna memenuhi kebutuhan materi mereka serta agar mereka tidak sibuk dengannya sehingga raelupakan pengabdian agung tadi. Umat ini betul-betul menampakkan penghormatan kepada para pekerja di jalan Allah tersebut. Hanya saja, berbagai bantuan dan keuntungan tersebut sama sekali tak boleh dicari, tetapi diberi. la tak boleh diminta meskipun tidak secara langsung seperti orang yang selalu menantikan di dalam hatinya. Namun, ia diberikan secara tanpa diharapkan. Jika tidak, keikhlasan seseorang akan menjadi cacat serta nyaris termasuk ke dalam golongan orang-orang yang melanggar larangan Tuhan, "Janganlah kalian menukar ayat-ayatKu dengan harga yang rendah". Sehingga sebagian amalnya terhapus.
Keinginan dan ketamakan untuk memperoleh keuntungan materil karena dorongan nafsu al-ammarah bisa memunculkan benih-benih kedengkian terhadap saudara dan sahabat seperjuangan. Dengan begitu berarti ia merusak keikhlasannya, mengotori kesucian dakwah kepada Allah, bahkan menghilangkan keuntungan materi itu sen-diri. Bagaimanapun persoalan ini cukup panjang.
Aku akan menyebutkan sesuatu yang akan menambah keikhlasan sekaligus mengekalkan kesetiaan yang tulus antara dua orang sau­dara. Hal itu aku paparkan dalam dua perumpamaan berikut:
Pertama, penduduk dunia saat ini menjadikan kepemilikan ber­sama (sosialisme) sebagai sebuah kaidah untuk mendapatkan keka-yaan atau kekuatan yang besar. Bahkan orang-orang yang mempunyai pengaruh dalam kehidupan sosial—entah pribadi, golongan, ataupun beberapa pimpinan—menjadikannya sebagai sandaran mereka. Se­bagai hasil dari mengikuti kaidah di atas, mereka mendapatkan kekuatan yang hebat serta memperoleh keuntungan yang besar meskipun di dalamnya tersimpan berbagai bahaya dan penyalahgunaan. Sebab hakikat dari kepemilikan bersama tersebut tidak berubah ka­rena adanya keburukan dan bahaya di dalamnya. Di sini, dilihat dari sisi kepemilikan bersama dan dari sisi pengawasannya atas harta tersebut, setiap orang memposisikan dirinya sebagai pemilik semua harta yang ada walaupun ia tidak bisa mempergunakan semua harta itu. Akan tetapi, apabila kaidah tadi diaplikasikan dalam amal-amal ukhrawi ia akan memberikan berbagai manfaat yang besar tanpa menimbulkan kerugian atau bahaya sama sekali. Sebab, semua harta ukhrawi tersebut menjadi milik setiap orang dari mereka tanpa dikurangi sedikitpun.
Agar menjadi jelas kami akan mengetengahkan contoh berikut:
Ada lima orang yang ikut berpartisipasi dalam menyalakan lampu minyak. Ada yang menyediakan minyak, ada yang menyediakan sumbu, ada yang menyediakan kaca lampu, ada yang menyediakan lampu itu sendiri, serta ada yang menyediakan satu kotak korek api. Ketika mereka menyalakan lampu minyak tersebut, setiap orang dari mereka mengaku menjadi pemilik lampu itu. Seandainya masing-masing mereka memiliki sebuah cermin besar yang digantung didinding, lampu tersebut akan bisa dipantulkan oleh cermin tadi tanpa berkurang sedikitpun.
Demikian pula dengan pengelolaan bersama amal-amal ukhrawi yang dilandasi oleh keikhlasan, kerja sama yang dilandasi oleh sikap persaudaraan, dan berbagai upaya yang dilandasi oleh persatuan. Semua amal mereka yang terlibat di dalamnya dan semua cahaya yang bersumber darinya akan masuk secara sempurna ke dalam catatan amal setiap mereka. Ini tampak secara secara jelas dan nyata di an­tara ahli hakikat. Hal tersebut termasuk wujud dari luasnya rahmat Allah dan kemurahanNya yang mutlak.
Wahai saudara-saudaraku, aku mempunyai harapan insya Allah berbagai keuntungan materi tidak akan rnemicu munculnya rasa dengki di antara kalian. Namun sebagaimana sebagian ahli tarekat sufi. kalian bisa tertipu oleh berbagai keuntungan ukhrawi. Karena itu, sadarlah bahwa pahala pribadi tidak ada artinya dibandingkar. dengan pahala besar yang bersumber dari adanya kebersamaan dalam amal-amal ukhrawi. Tentu saja cahaya yang kecil tak bisa diukur dengan cahaya yang terang benderang.
Kedun, para pekerja terampil dan professional bisa memperoleh hasil yang berlimpah dan kekayaan yang banyak karena mereka berpegang pada prinsip 'kerja sama dalam karya dan keahlian'. Contohnya adalah sebagai berikut:
Sepuluh orang pembuat jarum jahit melakukan pekerjaan mereka. Masing-masing bekerja sendiri. Hasilnya, hanya tiga jarum yang diperoleh olch masing-masing mereka dalam satu hari. Kemudian mereka pun bergabung menyatukan langkah dan membagi kerja. Ada yang menghadirkan besi, ada yang menyediakan api, ada yang membuat lubang jarum, ada yang memasukkan ke dalam api, ada yang mulai membentuk, dan seterusnya. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma. Masing-masing mempunyai tugas tertentu dan semuanya bisa dilakukan dengan cepat Sebab, selain tergolong pekerjaan sederhana, masing-masing memiliki pengalaman dan ke­ahlian di dalamnya. Hasil dari pembagian tugas itu, bagian yang di­peroleh oleh masing-masing mereka dalam satu hari adalah tiga ratus jarum padahal tadinya hanya tiga jarum. Kasus ini tentu saja menjadi pegangan para pekerja dan professional yang menyeru kepada adanya penggabungan kerja dan pembagian tugas.
Wahai saudara-saudaraku, kalau keuntungan besar di atas di peroleh dari adanya persatuan dan kesepahaman dalam urusan du-niawi, lalu betapa besar pahala yang diperoleh atas amal-amal ukhrawi! Betapa besar ganjaran yang terpantul dari kerja kolektif pada cermin masing-masing! Amal-amal tersebut tidak perlu dibagi-bagi lagi. Kalian bisa memperoleh laba besar tersebut. Laba besar tersebut tentu saja tidak boleh dihapus dengan kedengkian dan ketiadaan ikhlas.
Kedua: Cinta Kedudukan
Penghalang ikhlas yang kedua adalah membiarkan nafsu al-ammarah bissu bersikap ego, mencari pangkat dan kedudukan agar menjadi perhatian manusia, serta senang kepada sanjungan orang karena motivasi ingin terkenal dan populer. Disamping merupakan penyakit kejiwaan yang kronis, ia juga merupakan pintu menuju syirik yang samar. Yaitu riya dan ujub yang bisa menghancurkan keikhlasan.
Wahai saudara-saudaraku, karena pengabdian yang kita lakukan ini berlandaskan pada kebenaran dan persaudaraan, di mana rahasia persaudaraan itu baru terwujud ketika seseorang meleburkan dirinya
dalam pribadi saudara-saudaranya[6] dan ketika ia lebih menguta-makan mereka, maka seharusnya kedengkian yang bersumber dari keinginan untuk mendapat kedudukan tidak boleh ada dalam diri kita. Sebab, sifat tersebut sangat bertentangan dengan jalan yang kita lalui. Karena kemuliaan dan kehormatan seluruh ikhwan kembali kepada setiap orang dalam jamaah, tidak mungkin kedudukan yang tinggi dan kemuliaan yang agung tersebut dikorbankan demi popularitas dan kemuliaan pribadi yang berasal dari egoisme dan rasa iri. Aku percaya bahwa hal itu tidak dimiliki oleh para murid an-Nur.
Ya, kalbu, akal, dan jiwa semua murid an-Nur tidak akan terjatuh pada hal-hal rendah semacam itu. Hanya saja, setiap orang pasti menyimpan potensi nafsu ammarah bissu. Bisa saja hal-hal yang ber-sifat ego rendahan masuk ke dalam tubuh, bertengger di atas syaraf, dan mengalahkan akal, kalbu, dan jiwa mereka. Karena risalah-risalah an-Nur memberikan banyak pengaruh kepada din kalian, aku tidak mencurigai kalbu, akal, dan jiwa kalian. Nainun demikian, nafsu, selera rendah, perasaan, dan angan-angan seringkali menipu. Karenanya, peringatan yang diberikan kepada kalian kadangkala bersifat pedas dan keras. Kerasnya peringatan tersebut tidak lain ditujukan kepada nafsu, selera rendahan, perasaan, dan angan-angan tersebut. Maka itu, kalian senantiasa harus waspada.
Ya, seandainya jalan kita berbentuk tarekat khusus yang dipimpin oleh syakh, tentu di dalamnya ada satu atau beberapa kedudukan yang bersifat terbatas. Juga, tentu akan ada banyak orang yang dica-lonkan untuk menempati kedudukan tersebut. Ketika itulah muncul kedengkian dan egoisme pribadi. Namun jalan kita hanya satu yaitu persaud.iraan. Karena itu, tidak boleh ada di antara kalian yang mengembangkan paham paternalistik serta memposisikan dirinya sebagai mursyid. Dalam persaudaraan, kedudukan yang ada sangai
luas sehingga tidak perlu saling mendengki. Justru seorang saudara harus membantu saudaranya, menyempurnakan amalnya, serta menolongnya.
Di antara bukti bahwa dalam institusi yang memakai sistem paternalistik, mursyid, dan guru, tersimpan berbagai dampak buruk yang bersumber dari persaingan dan kedengkian karena rakus pada upah dan ganjaran adalah adanya berbagai perpecahan dan permusuhan di tengah-tengah keuntungan agung yang dirasakan oleh para ahK tarekat sufi itu di mana perpecahan tersebut menimbulkan dam­pak buruk yang menjadikan kekuatan utama mereka tak mampu berdiri tegak dalam menghadapi terpaan topan bidah.
Ketiga: Takut dan Tamak
Dalam hal ini kita merujuk kepada risalah Hajamat as-Sitt (Enam Serangan).[7] Dalam risalah tersebut penghalang ini dijelaskan bersama penghalang-penghalang lainnya secara sangat jelas.
Kami bermohon kepada Allah Yang Maha Fengasih dan Penyayang seraya meminta syafaat semua namaNya yang mulia agar Dia memberikan taufik dan keikhlasan yang sempurna kepada kita seluruhnya. Amin.
Ya Allah, dengan kebenaran surat al-Ikhlas jadikanlah kami sebagai hamba-hambaMu yang bisa berbuat ikhlas dan dibuat ikhlas. Amin... amin.
Maha Suci Engkau. Kami iiada memiliki pengetahuan kecuuli apa yang
Kau ajarkan pada kami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan
Maha Bijaksana.
RISALAH KHUSUS UNTUK SEBAGIAN IKHWAN
Aku akan menyebutkan sebuah permasalahan penting yang cterkandung dalam dua hadits Nabi SAW. untuk para ikhwan yang merasa jemu dan bosan dalam menuliskan risaiah-risalah an-Kur, serta untuk mereka yang lebih mementingkan membaca berbaga: wirid pada iiga bulan ini—yang merupakan bulan-bulan ibadah— daripada menulis risalah an-Nur yang terhitung setara dengan ibadah dilihat dari lima aspek.[8]
Hadits yang pertama berbunyi, "Tinta para ulama ditimbang dengan darahnya kaum syuhada".[9] Dengan kata lain, tinta yang dipergunakan oleh para ulama hakikat pada hari kiamat nanti akan ditimbang bersama darahnya kaum syuhada dan menyamainya.
Hadits yang kedua, "Siapa yang berpegang pada sunnahku di saat rusaknya umatku, ia mendapatkan pahala seratus orang yang mati syahid"' Artinya, siapa yang berpegang pada sunnah Nabi SAW-dan hakikat al-Quran, lalu ia mengamalkannya di saat bidah dan kesesatanmenyebar luas, maka ia mendapatkan pahala seratus orang yang mati syahid.
Karena itu, wahai yang merasa jemu dan malas untuk menulis, wahai para ikhwan yang cenderung ke arah tasawwuf, pengertian yang didapat dari kedua hadits di atas adalah bahwa satu gram tetesan cahaya hitam dan air pembangkit kehidupan yang berasal dari pena-pena berkah dan suci milik mereka yang mengabdikan dirinya pada hakikat keimanan, rahasia syariah, dan sunnah Nabi SAW. dalam kondisi semacam ini bisa menyamai seratus gram darah para syuhada di hari kebangkitan nanti.
Dengan demikian, berusahalah kalian wahai para ikhwan untuk mendapatkan ganjaran besar tersebut.
Barangkali engkau berkata bahwa yang disebutkan dalam hadits di atas adalah para ulama sementara sebagian kita hanyalah penulis biasa.
Pernyataan di atas dapat dijawab sebagai berikut: Orang yang membaca berbagai risalah dan pelajaran ini dalam setahun, lain memahami dan menerimanya bisa menjadi ulama penting di zaman sekarang. Kalaupun sudah membaca tetapi belum memahami se-muanya, maka ia adalah para murid an-Nur yang memiliki sosok maknawiyah. Tak diragukan lagi bahwa mereka termasuk salah satu ulama zaman ini. Pena-pena kalian merupakan jari-jemari dari kepribadian hakiki tersebut. Kalian telah mengikatkan diri kalian dengan al-faqir (Said an-Nursiy) dan kalian juga berprasangka baik padanya dengan memposisikannya sebagai seorang ulama dan guru meskipun aku melihat diriku tidak berhak mendapatkannya. Namun karena aku seorang ummi yang tak pandai menulis, pena-pena kalian terhitung sebagai pena-penaku sehingga kalian mendapat pahala yang besar sesuai bunyi hadits di atas.
Said an-Nursi
nurayasrib@yahoo.co.id
[1] Ya, sebagaimana kerja sama yang hakiki dan persatuan yang utuh yang berasal dari keikhlasan memberikan banyak sekali keuntungan, ia juga merupakan sandaran yang kuat untuk menghadapi berbagai kecemasan. Bahkan dalam menghadapi kematian sekalipun. Sebab, kematian hanya merenggut satu ruh. Adapun orang yang telah mengikat tali persaudaraan yang tulus dengan Saudara-saudaranya dalam hal-hal yang terkait dengan akhirat serta dalam rangka menggapai ridhoNya membawa ruh-ruh lain sejumlah saudaranya. Sehingga ia menjumpai kematian dengan wajah tersenyum sambil berkata, "Ruh-ruhku yang lain selamat. Aku masih memiliki kehidupan maknawiyah di mana ia tetap menghasilkan pahala untukku. Dengan begitu aku belum mati". Ia arahkan ruhnya dengan tenang, sementara lisannya berucap, "Aku masih hiudup dengan ruh-ruh tersebut dari sisi pahala. Kematianku hanya dari sisi dosa dan kesalahan" (penulis).
[2] Maksudnya kota Wan yang terletak di Timur Turki.
[3] Maksudnya kampung Perla.
[4] Karena tulisannya yang buruk
[5]"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yakni maut". Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi yang kemudian dianggapnya sebagai hadits hasan. la juga diriwayatkan oleh an-Nasai dari Abi Salmah lalu dari Abu Hurairah secara marfu. Menuuut ibn Hibban dan al-Hakim hadits itu sahih.

[6] Ya, orang yang bahagia adalah yang bisa melenyapkan sosok dirinya dan menghilangkan egoismenya—yang seperti setitik es—di telaga besar dan nikrmat yang terpancar dari taman Kautsar al-Quran guna memperoleh telaga tersebul (penulis),
[7] Yaitu bagian yang keenam dari al-Maktub at-Tasi wal Isyrin (Tulisan kedua puluh sembilan) yang ditulis sebagai peringatan bagi para murid al-Quran dari macam tipuan setan.

[8] Kami telah bertanya kepada guru kami tentang lima aspek dari ibadah yang beliau isyaratkan dalam risalah berharga ini. Yaitu:
1. Ia merupakan bentuk jihad maknawi dalam rnenghadapi kaum yang sesat Itu adalah jihad terpenting.
2. Ia merupakan bentuk pengabdian dan bantuan bagi gurunya untuk menyebarluaskan kebenaran.
3. Ia merupakan bentuk pengabdian bagi seiuruh kaum muslimin dari sisi. keimanan.
4. Ia merupakan bentuk pemerolehan ilmu lewat tulisan.
5. Ia merupakan bentuk ibadah perenungan yang satu jam darinya senilai dengan satu tahun ibadah.
Nash hadits tersebut berbunyi, "Pada hari kiamat, tinta para ulama dan darahnya para syuhada ditimbang. Ternyaia tinta para ulama lebih berat ketibang darahnya para syuhada". Hadis ini diriwayatkan oleh asy-Syairazi dalaM. kitab al-Alqah dari Anas, juga oleh al-Muhibi dalam Fadhhil Ilrn dari Imran ibn Hasin, oleh Ibn al-Jauzi dalam kitab al-llal dari an-Nu'man ibn Basyir. Mcnurut z\-Munawi dalam Faidhul Qadir (6: 466) semua sanadnya lemah namun salins. menguatkan. Al-Ajluni juga menyebutkan dalam Kasyfii Khafa (2: 561). Al-Ghazal: menuliskannya pula dalam al-Ihya bab Ilmu. Menurut ai-Iraqi, sanadnya lemah Lihat as-Suyuti dalam al-]ami' ash-Shaghir (10026), Tamyiz ath-Thoyyib hal 201. Dhoif al-jami ash-Shaghtr nomor 2464.
[9]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar